Você está na página 1de 41

LAPORAN KASUS INDIVIDU

SKABIES
Ni Komang Putri Laraswati
H1A 013 045
PENDAHULUAN
◦ Penyakit berbasis lingkungan  masalah kesehatan terbesar masyarakat
Indonesia  penyakit kulit infeksi  skabies
◦ Skabies  penyakit kulit akibat infeksi yang disebabkan oleh tungau
Sarcoptes scabiei dan bersifat menular, populasi padat dengan higiene yang
buruk
◦ WHO (2009) di negara berkembang, 7-35% dari populasi umum dan
insiden tertinggi terdapat pada kelompok anak usia 1-14 tahun sebesar
(51,51%)
◦ Depkes RI  prevalensi skabies di Puskesmas seluruh Indonesia tahun 2008 =
5,6%-12,95% dan menduduki urutan ketiga dari 12 penyakit kulit tersering
◦ NTB penyakit kulit infeksi menduduki peringkat ketiga dari 10 penyakit
terbanyak di Puskesmas tahun 2014 (74.829), bertambah di tahun 2015
menjadi 81.693 kasus
◦ Puskesmas Kediri (2018) skabies tercatat dalam 10 penyakit terbanyak
dalam kunjungan rawat jalan di poli anak Puskesmas Kediri (610 kasus)
LAPORAN
KASUS
IDENTITAS PASIEN
◦ Nama Pasien : An. RAR
◦ Umur : 20 bulan
◦ Jenis kelamin : laki – laki
◦ Agama : Islam
◦ Suku : Sasak
◦ Alamat : Dusun Gelogor Timur RT 04
◦ Tanggal Pemeriksaan : 5 Januari 2019

Identitas Ibu Ayah


Nama Ny. S Tn. H
Umur 30 Th 35 Th
Pendidikan/Berapa tahun SMP SMP
Pekerjaan IRT Buruh
ANAMNESIS
• Gatal-gatal
Keluhan utama

• gatal-gatal sejak 2 minggu


• gatal terutama malam hari  sulit tidur dan rewel
• sela jari tangan dan telapak tangan, kedua kaki,
RPS pantat dan sekitar lipatan paha, ketiak bagian depan,
perut bagian bawah dan punggung
• Bentol membesar berisi cairan kekuningan, dan
seringkali luka karena garukan
ANAMNESIS

RPD
• Sebelumnya pasien tidak pernah mengalami penyakit
serupa.

RPK
• Kakak pasien menderita keluhan serupa sejak 1 minggu
yang lalu

Riwayat • Ibu pasien mengaku belum pernah mengobati keluhan


Pengobatan yang dialami pasien saat ini

Riwayat • Pasien mengatakan tidak memiliki riwayat alergi


terhadap makanan ataupun obat – obatan tertentu.
alergi
ANAMNESIS
• Ibu pasien 6 kali ANC di posyandu
Riwayat • Riwayat sakit berat selama hamil (-) dan minum obat-obatan
Kehamilan tertentu (-)
dan Persalinan
• Pasien lahir normal di Puskesmas Kediri dengan BBL 3.000 gr

Riwayat • ASi eksklusif sampai saat ini, dan pasien sudah diberikan
Nutrisi makanan pendamping ASI

Status • imunisasi sesuai jadwal di posyandu


Imunisasi
Riwayat • sesuai dengan anak – anak seusianya
Tumbuh
Kembang
ANAMNESIS
• tinggal bersama orang tua dan kakak pasien
• ayah pasien bekerja sebagai buruh memiliki
penghasilan Rp. 400.000-Rp. 500.000 per bulan
Riwayat • pasien tinggal di lingkungan padat penduduk
di wilayah Gelogor Timur yang berdekatan
Sosial, dengan lokasi pondok pesantren
ekonomi dan • teman seusia pasien yang lebih dulu menderita
Lingkungan penyakit serupa  kontak (bermain dan tidur
bersama hampir setiap hari)
• Air minum dan MCK  air sumur
• Mandi dan BAB  kamar mandi pribadi
Genogram
Tn.A Tn.J
Ny.M Ny.N
(65th) (60th)
(62th) (58th)

Tn.H Ny.S Ny.A Tn.R


(35th) (30th) (26th) (23th)
Keterangan :
: Laki-Laki
An.E An.R : Perempuan
(8th) (20bln) : Menderita
penyakit skabies
: Pasien
: Tinggal satu rumah
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum Baik
Kesadarah Compos Mentis (E4V5M6)
Frekuensi Nadi 114 x/menit
Frekuensi 24 x/menit
Pernapasan
Suhu aksila 36,80 C
Berat badan 9 kg
Objektif
Status Lokalis
◦ Kepala : Deformitas (-)
Rambut : berwarna hitam dan tersebar merata
Mata : Konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/-, mata cekung (-)
Telinga : Deformitas pinna (-), serumen (-)
Hidung : Deformitas (-), sekret (-)
Tenggorok : Uvula di tengah, arkus faring simetris, tonsil T1-T1, detritus
(-)
Gigi & mulut : Karies dentis (-), sianosis (-)
◦ Leher : pembesaran KGB (-)
Objektif
Status Lokalis
◦ Thorax
Cor:
◦ Inspeksi : iktus kordis tidak tampak
◦ Palpasi : iktus kordis teraba ICS 5 midklavikula sinistra
◦ Perkusi : Batas atas pada ICS 2
◦ Auskultasi : S1S2 tunggal regular, murmur (-), gallop (-)
Pulmo:
◦ Inspeksi : Bentuk simetris, Pergerakan simetris, frekuensi 20 x/menit, teratur
◦ Palpasi : Pergerakan simetris
◦ Perkusi : Sonor di kedua lapangan paru
◦ Auskultasi : Suara nafas vesikuler +/+, Suara tambahan rhonki -/-, Suara
tambahan wheezing -/-
Objektif
Status Lokalis
◦ Abdomen
Inspeksi : distensi (-)
Auskultasi : bising usus (+) normal
Perkusi : timpani di seluruh kuadran abdomen
Palpasi : Turgor dan tonus: normal, nyeri tekan (-), hepatomegali (-),
splenomegali (-)
◦ Ekstremitas
Ekstremitas Superior Ekstremitas Inferior
Penilaian
Dextra Sinistra Dextra Sinistra
Akral hangat + + + +
Edema - - - -
Deformitas - - - -
Sianosis - - - -

◦ Inguim-genital-anus : dalam batas normal


Objektif
Status Lokalis
◦ Sistem Integumen:
◦ Distribusi : regional
◦ Regio : interdigitalis dan palmar bilateral manus, interdigitalis dan palmar
bilateral pedis, aksila, abdomen, dan inguinal.
◦ Deskripsi UKK: papul multipel dan vesikel serta pustul, bentuk bulat, ukuran 3-5
mm diatas permukaan kulit, batas tidak tegas, disertai ekskoriasi.
PEMERIKSAAN PENUNJANG : (-)

DIAGNOSIS :
Skabies + Infeksi Sekunder
TATALAKSANA
Tujuan Farmakologi

• Mencegah penularan • topikal salep  asam salisilat


penyakit dan kekambuhan 2% dan sulfur presitatum 4%
penyakit dioleskan di seluruh tubuh
• Mengeradikasi parasit dan sesudah mandi pada malam
meringankan gejala hari, kemudian bilas pagi
harinya. Dipakai 3 hari
berturut-turut.
• CTM 3 x 1/4 tab
• Amoxicillin 3 x 1 cth
TATALAKSANA
Konseling
• Pasien harus berobat bersama seluruh anggota keluarganya yang
sakit.
• Seluruh pakaian, selimut, sarung bantal, sarung guling dan kasur
harus direndam dengan air mendidih, kemudian dijemur di terik
matahari, dan disetrika. Kasur bantal dan guling di jemur di bawah
sinar matahari langsung.
• Mengubah perilaku sehari-hari menjadi perilaku hidup bersih dan
sehat
• Rajin mandi dengan sabun minimal 2 kali sehari
• Tidak menggunakan pakaian dan handuk secara bersama
• Rajin mencuci pakaian yang digunakan dengan bersih dan
membersihkan tempat tinggal
Prognosis
◦ Ad vitam : dubia ad bonam
◦ Ad functionam : dubia ad bonam
◦ Ad sanationam : dubia ad bonam
Denah
Rumah
Pasien
PENELUSURAN
HOME VISIT
Dasar Pemilihan Kasus
Hasil Penelusuran
◦ Pasien adalah anak kedua dari dua bersaudara. Pasien tinggal dirumah berempat
dengan ayah, ibu, dan satu saudaranya.
◦ Pasien tinggal dilingkungan padat penduduk di wilayah Gelogor Timur, dimana
terdapat teman seusia pasien yang menderita penyakit serupa.
◦ Rumah  1 kamar tidur, 1 ruang keluarga, dan 1 kamar mandi, dan dapur. Luas
rumah pasien ± 8 x 5 meter, jarak rumah pasien dengan rumah tetangga di depan
(barat) ± 3 meter, samping kiri (utara) ± 2 meter, samping kanan (selatan) ± 1 meter,
serta belakang rumah (timur) tembok rumah menyatu dengan rumah tetangga.
Dapur berada di dalam rumah yang bersebelahan dengan kamar mandi.
◦ Satu kamar tidur dihuni oleh seluruh anggota keluarga. Ventilasi  cukup baik
karena selalu terbuka, walaupun hanya terdapat satu jendela dan sinar matahari
tidak dapat sepenuhnya menyinari kamar. Dari kedua kamar ditemukan banyak
baju dan barang-barang yang digantung dan ditumpuk. Lantai rumah terbuat dari
semen, dinding rumah berupa tembok, plafon terbuat dari triplek, dan atap rumah
terbuat dari genteng.
Hasil Penelusuran
◦ Sumber air minum, mandi, dan cuci berasal dari air sumur yang berjarak ± 3
meter dari rumah.
◦ Pendapatan keluarga dari penghasilan ayah pasien yang bekerja sebagai
buruh. Kira-kira penghasilan ayah pasien mencapai Rp.400.000-Rp.500.000 per
bulan.
◦ Menurut ibu pasien, terdapat teman seusia yang memiliki keluhan yang sama
dengan pasien terlebih dahulu, serta pasien sering bermain ke rumah
temannya sampai sering tidur bersama. Pasien belum pernah dibawa berobat
sebelumnya untuk keluhan ini.
◦ Ibu pasien mengakui seluruh anggota keluarga mandi 2x sehari, namun satu
keluarga hanya memiliki 2 handuk yang digunakan secara bergantian.
Pakaian, handuk dan seprai yang akan dipakai tidak selalu disetrika terlebih
dahulu. Kasur dan bantal jarang dijemur. Ibu pasien mengaku jarang
memperhatikan kebersihan tangan pasien.
Kerangka Konsep
Masalah Pasien
PEMBAHASAN
Aspek Klinik
◦ gatal di kulit terutama dirasakan pada malam hari
◦ anggota keluarga serta tetangga pasien mengalami keluhan serupa
◦ lokasi lesi  disela jari, telapak tangan, pergelangan tangan, ketiak
bagian depan, paha bagian dalam, kedua kaki, peut bagian bawah
dan sekitar bokong
◦ papul multipel dan vesikel serta pustul, bentuk bulat, ukuran 3-5 mm
diatas permukaan kulit, batas tidak tegas, disertai ekskoriasi

2 dari 4 tanda kardinal dari skabies


salep 2-4
amoxicillin 3 x 1 cth
CTM 3 x 1/4 tablet
Aspek Ilmu Kesehatan Masyarakat
◦ Faktor perilaku
◦ PHBS atau personal hygiene
◦ Mandi secara teratur menggunakan sabun sebanyak 2 kali sehari
◦ Mencuci tangan dengan sabun. Berikut ini merupakan lima waktu penting cuci
tangan pakai sabun, yaitu : sebelum makan, sesudah buang air besar, sebelum
memegang bayi, sesudah menceboki anak, dan sebelum menyiapkan makanan.
◦ Mencuci pakaian, seprei, sarung, bantal, selimut dan lainnya secara teratur minimal 2
kali seminggu
◦ Menjemur kasur dan bantal minimal 2 minggu sekali
◦ Tidak saling bertukar pakaian dan handuk dengan orang lain
◦ Hindari kontak dengan orang-orang atau kain serta pakaian yang dicurigai terinfeksi
tungau skabies
◦ Menjaga kebersihan rumah dan ventilasi yang baik.
◦Faktor Lingkungan
◦ Kontak langsung (kontak kulit dengan kulit)
◦ Kontak tak langsung (melalui benda)
◦ Pemukiman padat penduduk transmisi parasit
◦ ventilasi kurang baik, banyak ditemukan pakaian
digantung dalam kamar
Faktor Sosial, Ekonomi, dan Budaya
◦ rutin dan berkala mengganti seprei, sarung bantal, handuk,
pakaian serta menjemur kasur untuk memperkecil risiko
perkembangan dan penyebaran skabies
◦ Meningkat pada masyarakat dengan ekonomi menengah
kebawah
◦ Kesadaran masyarakat  skabies merupakan penyakit gatal
biasa dan tidak berbahaya, tidak melakukan pengobatan
dengan benar dan juga tidak memperhatikan lingkungannya
Faktor Pelayanan Kesehatan
◦ pencegahan penularan ataupun penyebaran
berbagai penyakit menular
◦ KIE tentang penyebab, cara penularan dan cara pencegahan
skabies  penyuluhan di lokasi-lokasi target berbasis individu
maupun masyarakat
◦ informasi yang belum memadai mengenai skabies serta
peran kader dalam penemuan kasus skabies dan
penanganannya yang belum maksimal
KESIMPULAN
DAN SARAN
Kesimpulan
◦ Pada data sepuluh penyakit terbanyak tahun 2017-2018,
penyakit kulit infeksi (termasuk skabies) selalu masuk dalam 10
penyakit terbanyak di Puskesmas Kediri.
◦ Adanya laporan khusus mengenai jumlah kasus skabies dan
tingkat penyebarannya di tiap-tiap desa di Kediri di tahun 2018.
◦ Terdapat 3 faktor utama yang mempengaruhi kejadian penyakit
skabies pada pasien ini, yaitu: perilaku, lingkungan, dan
pelayanan kesehatan.
Saran
◦ Untuk memutus mata rantai penularan dapat dilakukan dengan
meningkatkan sistem penemuan penyakit di tingkat masyarakat
agar anggota masyarakat mau melaporkannya ke pelayanan
kesehatan (penemuan kasus secara pasif), sehingga dapat
dilakukan pengobatan secara masal pada seluruh penderita
skabies.
◦ Perlu lebih mengoptimalkan upaya promotif yaitu melalui
sosialisasi program pemerintah seperti GERMAS dan PHBS.
◦ Memberikan edukasi tentang skabies termasuk cara penularan,
pengobatan serta pengendaliannya
DAFTAR PUSTAKA
◦ Departemen Kesehatan RI. Standar Pelayanan Operasional Klinik Sanitasi. Jakarta.2004
◦ Chandra, Budiman. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Cetakan I. Jakarta: EGC. 2007
◦ Khusnul, Ulfatusyifah. Hubungan Antara Sanitasi Lingkungan Dan Higiene Perorangan Dengan Kejadian Scabies Di
Pondok Pesantren “Al-Bahroniyyah” Ngemplak Mranggen Kabupaten Demak. Universitas Negeri Surabaya.
Surabaya.2014
◦ Djuanda, A. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi Ketujuh. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2015
◦ Akmal, Suci Chairiya., Semiarty, Rima., dan Gayatri. Hubungan Personal Hygiene Dengan Kejadian Scabies Di Pondok
Pendidikan Islam Darul Ulum, Palakir Air Pacah Kecamatan Koto Tangan Padang. Jurnal kesehatan Andalas; 2. 2015
◦ Bahdri, M. Hygiene Perorangan Santri Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar Ponorogo. Media Litbang Kesehatan. Vol :
xvii, No. 2. 2007
◦ Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Data Kesehatan Indonesia Tahun 2011. 2012
◦ Dinas Kesehatan Provinsi NTB. Profil Kesehatan Provinsi NTB Tahun 2015. 2016
◦ UPT BLUD Puskesmas Kediri. Available at: <http://puskesmaskediri-dikes.lombokbaratkab.go.id>
◦ Mansyur, M. Pendekatan Kedokteran Keluarga pada Penatalaksanaan Skabies Anak Usia Pra-Sekolah. Majalah
Kedokteran Indonesia . Vol. 57, No. 2, Februari 2007. Hal : 63-67. 2007
◦ Tim Penyusun. Pedoman Diagnostik dan Terapi Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. RSU Dokter Soetomo : Surabaya. 2005
◦ Depkes RI. Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Jakarta. 2010
◦ Kandun, I. Nyoman. Manual Pemberantasan Penyakit Menular. Edisi 17. Bakti Husada; Jakarta. 2000
LAMPIRAN