Você está na página 1de 33

Telinga

Tuli
• Terbagi 3, konduktif, sensorineural, mixed.
• Di praktik primer, harus kuasai tes bisik dan tes garpu tala.
• Tes bisik: > 6 meter: normal. 4-6 ringan, 2-4 sedang, <2 berat
• Tes garis pendengaran:
normal: mendengar semua frekuensi
tuli konduktif: batas bawah naik (frekuensi rendah tidak terdengar)
tuli sensorineural: batas atas menurun (frekuensi tinggi tdk terdengar)
• Tes Rinne: hantaran tulang vs udara pada 1 telinga
Rinne (+) masih mendengar hantaran udara: normal/sensorineural
Rinne (-) tidak mendengar hantaran udara: konduktif
• Tes weber: hantaran tulang telinga kiri vs telinga kanan (menilai lateralisasi)
normal: tidak ada lateralisasi. Tuli konduktif lebih keras di telinga yang sakit, tuli sensorineural lebih keras
mendengar di telinga yang sehat.
Lateralisasi ke kanan memiliki 5 interpretasi:
1. Tuli konduktif kanan, kiri normal
2. Tuli sensorineural kiri, kanan normal
3. Tuli konduktif kedua telinga, tetapi lebih berat di kanan
4. Tuli sensorineural kedua telinga, tetapi lebih berat di kiri
5. Tuli konduktif kanan, kiri sensorineural
• Tes Swabach: hantaran tulang telinga sehat vs telinga sakit
normal: Swabach normal
tuli konduktif: Swabach memanjang
tuli sensorineural: Swabach memendek.
Audiometri
• Memastikan tuli sensorineural atau konduktif. BC = bone conduction,
AC = air conduction
• Pada tuli konduktif: ambang BC < 25 dB dan AC > 25 dB (ada gap)
• Tuli sensorineural: ambang BC dan AC > 25 dB (tidak ada gap)
• Tuli mixed: ambang BC dan AC > 25 dB, ada gap.
Otitis Externa
• Akut sirkumskripta (1/3 luar) : bisul, furunkel
Gejala: otalgia hebat, gangguan pendengaran (tuli konduktif), otore. Bisa
terdapat abses
• Akut difus (2/3 dalam)
gejala: otalgia, gatal telinga, terasa penuh, sekret berbau, gangguan
pendengaran, liang telinga hiperemis, sempit, edema, nyeri tekan tragus,
pembesaran dan nyeri tekan kelenjar getah bening regional
• Fungal (otomikosis): khas: tidak mempan antibiotic, debris putih, kelabu,
kehitaman. KOH positif. Terapi dengan antifungal (di samping terapi
umumnya)
• Maligna: pseudomonas, ada paresis nervus fasialis
Penanganan:
1. Non-medikamentosa:
• a. Membersihkan liang telinga secara hati-hati dengan pengisap atau kapas yang dibasahi dengan H 2 O 2
3%. b. Bila terdapat abses, dilakukan insisi dan drainase.
2. Medikamentosa:
a. Topikal
• Larutan antiseptik povidon iodine
• OE akut sirkumskripta pada stadium infiltrat:
• Salep ikhtiol, atau
• Salep antibiotik: Polymixin-B, Basitrasin.
• • OE akut difus: Tampon yang telah diberi campuran Polimyxin-B, Neomycin, Hidrocortisone, dan anestesi
topikal.
b. Sistemik
• Antibiotik sistemik diberikan bila infeksi cukup berat.
• Analgetik, seperti Paracetamol atau Ibuprofen dapat diberikan.
Otitis Media
• Berdasarkan waktu:
Akut 0-3 minggu. Subakut 3-12 minggu. Kronik >12 minggu.
• Bedakan supuratif atau non supuratif
(serosa/efusi/musinosa/sekretorik)
• Curiga serosa bila di soal sebutkan ada barotrauma/aerotitis. Selain
itu langsung supuratif.
• Stadium  penanganan
• Penanganan
• Oklusi tuba  dekongestan (pseudoefedrin, phenilephrin, efedrin),
mukolitik, antibiotic empiris
• Hiperemis  dekongestan, antibiotic empiris minimal 7 hari, analgesik
• Supurasi  antibiotic empiris, antipiretik/analgesic, dekongestan,
miringotomi
• Perforasi  obat cuci telinga H2O2 3% 3-5 hari, antibiotic.
• Resolusi  kalau masih otore antibiotic sampai 3 minggu.
• Otitis media serosa: dekongestan, antihistamin, maneuver valsalva jika
tidak ada infeksi, jika dalam 2 minggu tidak membaik  miringotomi + pipa
ventilasi (Grommet tube atau pipa T)
Otitis Media supuratif kronik
• Bedakan tipe aman (benigna) atau bahaya (maligna). Maligna
berbahaya karena komplikasi lanjutnya.
• Benigna: perforasi sentral, tanpa kolesteatoma
• Maligna: perforasi marginal atau atik, atau perforasi ukuran besar
(total), kolesteatoma.
• Kolesteatoma berbau khas, kadang disertai darah, secret purulent.
• Perlu foto mastoid  mastoiditis
Penanganan OMSK
1. Non-Medikamentosa
• Membersihkan dan mengeringkan saluran telinga dengan kapas lidi atau cotton bud. Obat cuci telinga dapat berupa NaCl 0,9%,
Asam Asetat 2%, atau Hidrogen Peroksida 3%.
2. Medikamentosa
• a. Antibiotik topikal golongan Ofloxacin, 2 x 4 tetes per hari di telinga yang sakit
• b. Antibiotik oral:
• • Dewasa:
• - Lini pertama : Amoxicillin 3 x 500 mg per hari selama 7 hari, atau Amoxicillin-Asam clavulanat 3 x500 mg per hari selama 7 hari,
atau Ciprofloxacin 2 x 500 mg selama 7 hari.
• - Lini kedua : Levofloxacin 1 x 500 mg per hari selama 7 hari, atau Cefadroxil 2 x 500 – 100 mg per hari selama 7 hari.
• • Anak:
• - Amoxicillin – Asam clavulanat 25 – 50 mg/kgBB/hari, dibagi menjadi 3 dosis per hari, atau
• - Cefadroxil 25 – 50 mg/kgBB/hari, dibagi menjadi 2 dosis per hari.
Respon terapi diawasi setelah 7 hari, rujuk bila OMSK tipe bahaya, tidak ada respon terapi, komplikasi intracranial, perforasi menetap
setelah 2 bulan telinga kering.
Corpus alienum telinga
• Bedakan bendanya reaktif atau tidak atau serangga. Reaktif seperti batu batere, potongan besi.
Bisa menimbulkan infeksi sekunder. Ekstraksi segera.
1. Non-medikamentosa: Ekstraksi benda asing
a. Pada kasus benda asing yang baru, ekstraksi dilakukan dalam anestesi lokal.
b. Pada kasus benda asing reaktif, pemberian cairan dihindari karena dapat mengakibatkan korosi.
c. Pada kasus benda asing berupa serangga: Dilakukan penetesan alkohol, obat anestesi lokal
(Lidokain spray atau tetes), atau minyak mineral selama ± 10 menit untuk membuat serangga tidak
bergerak dan melubrikasi dinding MAE. Setelah serangga mati, serangga dipegang dan dikeluarkan
dengan forceps aligator atau irigasi menggunakan air sesuai suhu tubuh.
2. Medikamentosa
a. Tetes telinga antibiotik hanya diberikan bila telah dipastikan tidak ada ruptur membran timpani.
b. Analgetik untuk mengurangi rasa nyeri
Serumen Prop
• Terasa penuh, tuli, nyeri, memberat jika telinga kemasukan air, ada vertigo
• Otoskopi: obstruksi liang telinga materi kuning kecoklatan atau kehitaman.
• Penatalaksanaan
1. Non-medikamentosa: Evakuasi serumen
• a. Bila serumen lunak, dibersihkan dengan kapas yang dililitkan pada pelilit kapas.
• b. Bila serumen keras, dikeluarkan dengan pengait atau kuret. Apabila dengan cara ini serumen
tidak dapat dikeluarkan, maka serumen harus dilunakkan lebih dahulu dengan tetes Karbogliserin
10% atau H 2 O 2 3% selama 3 hari.
• c. Serumen yang sudah terlalu jauh terdorong kedalam liang telinga sehingga dikuatirkan
menimbulkan trauma pada membran timpani sewaktu mengeluarkannya, dikeluarkan dengan
mengalirkan (irigasi) air hangat yang suhunya disesuaikan dengan suhu tubuh.
2. Medikamentosa
• Tetes telinga Karbogliserin 10% atau H 2 O 2 3% selama 3 hari untuk melunakkan serumen.
Noice induced Hearing loss (2)
• Soal: pekerja di tempat terpapar suara bising dalam waktu lama.
Terjadi tuli sensorineural, mula2 dari nada tinggi. Tinnitus. Khasnya
cocktail party deafness (sulit mendengar di tempat yang ramai akibat
bising latar belakang). Otoskopi normal.
• Audiometri nada murni: tuli sensorineural 3000-6000 Hz, takik
patognomonik 4000 Hz.
Vertigo
• Bedakan vestibular vs non vestibular
vestibular: rasa berputar akibat gangguan vestibular
non vestibular: rasa goyang, melayang, mengambang, timbul pada system
proprioseptif atau visual (polineuropati, hipotensi ortostatik, presinkop,
mielopati, trauma leher)
• Vertigo vestibular terbagi 2:
Perifer: lesi di labirin dan nervus vestibularis. (BPPV, Meniere, neuritis
vestibularis, oklusi arteri labirin, labirinitis, obat ototoksik, tumor nervus VIII)
Sentral: nucleus vestibularis di batang otak, thalamus, sampai korteks serebri
(migraine, Cerebrovascular disease, tumor, epilepsy, demielinisasi, degenerasi)
BPPV
• Vertigo berlangsung singkat, hebat, disertai mual dan muntah, karena
perubahan posisi kepala.
• Penyebab: kupulolithiasis
• Pemeriksaan diagnostic:
• Dix Hallpike (bisa kiri atau kanan): Dix hallpike kanan untuk periksa kanalis
anterior kiri dan kanalis posterior kanan.
• Side lying: BPPV kanalis anterior dan posterior
• Roll maneuver: BPPV kanalis horizontal
• Terapi: maneuver Epley, latihan Brandt-Darof. Semont maneuver
• Obat: Antihistamin (Dimenhidrinat, Difenhidramin, Meksilin, Siklisin,
Betahistin), Kalsium Antagonis (Cinnarizine)
Meniere disease (3A)
• Nama lain hidrops endolimfe idiopatik
• Trias: vertigo (rekuren, rotatoar, menit sampai jam), tinnitus, tuli
(sensorineural terutama nada rendah, unilateral, progresif)
• Tatalaksana:
• diet rendah natrium, kafein, nikotin, alcohol, makanan mengandung teofilin (coklat).
• Farmakologi H1 reseptor antagonist (dimenhidrinat, difenhidramin, prometazin)
• Benzodiazepin
• Antiemetik (metoklopramid, ondansetron)
• Diuretik (hidroklorothiazid)
• Steroid (untuk serangan akut)
Neuritis Vestibularis
• Disfungsi akut system vestibuler perifer.
• Vertigo berat mendadak, pendengaran tidak terganggu, deficit
neurologis tidak ada, didahului riwayat infeksi saluran nafas
sebelumnya, tidak ada nyeri kepala.
• Terapi: antagonis reseptor H1, benzodiazepine, antiemetic, steroid.
Presbiakusis (3A)
• Orang tua, tuli sensorineural nada tinggi, bilateral, simetris
• Cocktail party deafness
• Membran timpani suram, mobilitas berkurang
• Rehabilitasi: alat bantu dengar
Otosklerosis
• Penyakit yang diwariskan, menyebabkan ketulian. Utamanya tuli
konduktif, mulai dengan frekuensi rendah. Seiring perjalanan penyakit
bias timbul tuli sensorineural, biasanya nada tinggi. Tinnitus bias
muncul, memburuk pada keadaan pasien lemah, gugup, atau berada
di ruang tenang.
• Membran timpani normal. Schwartz sign positif (promontorium
cochlea tampak memerah karena vaskularisasi lesi)
Karsinoma nasofaring
• Gejala: telinga, neurologis, saluran nafas (+pembesaran KGB)
• Asalnya biasa dari fossa Rosenmulleri, fenomena palatum molle pada
rinoskopi posterior (-)
• Faktor risiko infeksi virus Epstein Barr
• Non operable pada sebagian besar kasus: radioterapi, kemoterapi
Good Luck !

‘It is better to suffer the pain of discipline than to suffer the pain of regret’