Você está na página 1de 16

‫ُُ ُ ُ‬

‫للا َوكَ َا َ‬
‫ه‬ ‫مةُ‬ ‫م َو َر ْ‬
‫ح َ‬ ‫علَ ْي ُ‬
‫ك ْ‬ ‫َّ‬
‫السال َ ُ‬
‫م َ‬

‫‪M Rizky Davito‬‬

‫‪XII MIPA 5‬‬


MAWARIS

Pengertian Dasar Hukum Ketentuan


Mawaris Waris Mawaris

AL QUR’AN AHLI WARIS

AS SUNNAH SYARAT

HKI SEBAB

KETENTUAN
Pengertian mawaris
 Mawaris merupakan serangkaian kejadian mengenai pengalihan
pemilikan harta benda dari seorang yang meninggal dunia kepada
seseorang yang masih hidup. Dengan demikian, untuk terwujudnya
kewarisan harus ada tiga unsur, yaitu:
1) orang mati, yang disebut pewaris atau yang mewariskan
2) harta milik orang yang mati atau orang yang mati meninggalkan
harta waris
3) satu atau beberapa orang hidup sebagai keluarga dari orang yang
mati, yang disebut sebagai ahli waris.
Dasar hukum waris
1. Al-Qur‘an
Dalam Islam saling mewarisi di antara kaum muslimin hukumnya adalah
wajib berdasarkan al-Qur‘an dan Hadis Rasulullah. Banyak ayat al-Qur‘an
yang mengisyaratkan tentang ketentuan pembagian harta warisan ini. Di
antaranya firman Allah Swt. dalam Q.S. an-Nisa'/4:7:

Artinya: “Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-
bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari
harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak
menurut bagian yang telah ditetapkan”
Dasar hukum waris
2. As-Sunnah
Hadis dari Ibnu Mas’ud berikut:

Artinya: Dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah SAW bersabda : “Pelajarilah al-


Qur‘an dan ajarkanlah ia kepada manusia, dan pelajarilah al faraidh dan
ajarkanlah ia kepada manusia. Maka sesungguhnya aku ini manusia yang
akan mati, dan ilmu pun akan diangkat. Hampir saja nanti akan terjadi
dua orang yang berselisih tentang pembagian harta warisan dan
masalahnya; maka mereka berdua pun tidak menemukan seseorang yang
memberitahukan pemecahan masalahnya kepada mereka”. (HR. Ahmad).
Dasar hukum waris
3. Posisi Hukum Kewarisan Islam di Indonesia
Tabel Mawaris menurut KHI (Kompilasi Hukum Islam)

Dasar Hukum
Sebab/ Harta
Ahli Waris Syarat Al Qur’an Pasal
Hubungan Waris
/ Hadits KHI

Istri/ Bila tidak ada anak/ cucu 1/4


Perkawinan 1 An-Nisa : 12 180
Janda Bila ada anak/ cucu 1/8
(yang masih
terikat status) Suami/ Bila tidak ada anak/ cucu 1/2
2 An-Nisa : 12 179
Duda Bila ada anak/ cucu 1/4
Sendirian (tidak ada anak dan
Nasab/ Anak 1/2
cucu lain)
Hubungan 1 Perempu An-Nisa : 11 176
Darah an Dua anak perempuan (tidak ada
2/3
anak/cucu laki- laki)
Lanjutan ...
Dasar Hukum
Sebab/
Ahli Waris Syarat Harta Waris Al Qur’an Pasal
Hubungan
/ Hadits KHI
Sendirian atau bersama anak/cucu
Anak lain (laki-laki atau perempuan). Ket: An-Nisa :
2 Asabah 176
laki-laki Anak laki-laki 2 kali lipat anak 11
perempuan
Ayah Bila tidak ada anak/ cucu 1/3 An-Nisa :
3 177
Kandung Bila ada anak/ cucu 1/6 11
Nasab/ Bila tidak ada anak, cucu,dua
Hubungan 1/3
saudara/ lebih, ayah kandung
Darah
Bila ada anak, cucu, tidak ada dua
saudara/lebih, tidak ada ayah 1/6
Ibu An-Nisa :
4 kandung 178
Kandung 11
1/3 dari sisa
Bila tidak ada anak, cucu, dua/lebih
setelah diambil
saudara perempuan, tetapi ada ayah
istri/ janda atau
kandung
suami/duda
Lanjutan ...
Dasar Hukum
Sebab/
Ahli Waris Syarat Harta Waris Al Qur’an Pasal
Hubungan
/ Hadits KHI
Saudara Sendirian, tidak ada anak, cucu, ayah
1/6
laki-laki/ kandung An-Nisa :
5 181
perempuan Dua orang/lebih, tidak ada 12
seibu 1/3
anak,cucu, ayah kandung
Saudara Sendirian, tidak ada anak, cucu, ayah
1/2
perempuan kandung An-Nisa :
6 181
sekandung/ Dua orang/lebih, tidak ada anak, 12
Nasab/ 2/3
Seayah cucu, ayah kandung
Hubungan
Darah Saudara
Ashabah setelah
laki-laki Sendirian atau bersama saudara lain, An-Nisa :
7 dibagi pembagian 182
sekandung/ tidak ada anak, cucu, ayah kandung 12
lain
seayah
Menggantikan kedudukan orangtuanya Sesuai yang
Tidak
Cucu/ yang menjadi ahli waris. Persyaratan diganti
8 ada/ 185
keponakan berlaku sesuai dengan kedudukan ahli dudukannya
ijtih±d
waris yang diganti sebagai ahli waris
Ketentuan mawaris dalam islam
1  Ahli Waris Jumlah ahli waris yang berhak menerima harta warisan dari
seseorang yang meninggal dunia ada ahli waris pihak laki-laki yang biasa
disebut ahli waris ashabah (yang bagiannya berupa sisa setelah diambil oleh
zawil furµd) dan ahli waris pihak perempuan yang biasa disebut ahli waris
zawil furµd (yang bagiannya telah ditentukan)
 Kaum Laki-laki :
1. Suami 2. Anak laki-laki 3. Anak laki-laki dari anak laki-laki
4. Ayah 5. Kakak 6. Saudara laki-laki sekandung
7. Anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung 8. Saudara laki-laki seayah
9. Anak laki-laki dan saudara laki-laki seayah 10. Saudara laki-laki seibu
11. Paman kandung 12. Anak laki-laki dari paman kandung
13. Paman seayah 14. Anak laki-laki dari paman seayah
 Kaum Perempuan :
1. Istri 2. Anak perempuan 3. Anak perempuan dari anak laki-laki
4. Ibu 5. Ibunya bapak 6. Ibunya ibu
7. Saudara perempuan sekandung 8. Saudara perempuan seayah
9. Saudara perempuan seibu
Ketentuan mawaris dalam islam
2  Syarat-syarat mendapatkan warisan :
 Tidak adanya salah satu penghalang dari penghalang-penghalang untuk
mendapatkan warisan.
 Kematian orang yang diwarisi, walaupun kematian tersebut berdasarkan
vonis pengadilan. Misalnya hakim memutuskan bahwa orang yang hilang
itu dianggap telah meninggal dunia.
 Ahli waris hidup pada saat orang yang memberi warisan meninggal
dunia. Jadi, jika seorang wanita mengandung bayi, kemudian salah
seorang anaknya meninggal dunia, maka bayi tersebut berhak menerima
warisan dari saudaranya yang meninggal itu, karena kehidupan janin
telah terwujud pada saat kematian saudaranya terjadi.
Ketentuan mawaris dalam islam
3  Sebab-sebab menerima harta warisan :
 Nasab (keturunan), yakni kerabat yaitu ahli waris yang terdiri dari bapak
dari orang yang diwarisi atau anak-anaknya beserta jalur kesampingnya
saudara-saudara beserta anak-anak mereka serta paman-paman dari
jalur bapak beserta anak-anak mereka.
 Pernikahan, yaitu akad yang sah yang menghalalkan berhubungan suami
isteri, walaupun suaminya belum menggaulinya serta belum berduaan
dengannya.
 Wala’, yaitu seseorang yang memerdekakan budak laki-laki atau budak
wanita. Jika budak yang dimerdekakan meninggal dunia sedang ia tidak
meninggalkan ahli waris, maka hartanya diwarisi oleh yang
memerdekakannya itu.
 Sebab-sebab tidak mendapatkan harta warisan :
 Kekafiran
 Pembunuhan
 Perbudakan
 Perzinaan
Ketentuan mawaris dalam islam
4  Ketentuan pembagian harta warisan :
Pembagian harta warisan dari seseorang yang meninggal dunia merupakan hal
yang terakhir dilakukan. Ada beberapa hal yang harus dilakukan sebelum harta
warisan dibagikan. Selain pengurusan jenazah, wasiat dan hutang si mayatlah
yang harus terlebih dahulu ditunaikan. Dalam al-Qur‘an terdapat ayat-ayat yang
menegaskan bahwa pembagian harta warisan dilaksanakan setelah penunaian
wasiat dan utang si mayit, seperti yang terdapat dalam Q.S. an-Nisa'/4:11.
Ketentuan mawaris dalam islam
Artinya: “Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-
anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang
anak perempuan, dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka
bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu
seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. dan untuk dua orang ibu-bapa,
bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang
meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai
anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga;
jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat
seperenam. (Pembagian- pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat
yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya”. (Q.S. an-Nisa'/4:11).
Ketentuan mawaris dalam islam
Ahli waris dalam pembagian harta warisan terbagi dua macam :
1. Ahli waris Zawil Furµd Ahli waris yang memperoleh kadar pembagian harta
warisan telah diatur oleh Allah Swt.
2. Ahli Waris 'Asabah Ahli waris asabah adalah perolehan bagian dari harta
warisan yang tidak ditetapkan bagiannya dalam furµd, tetapi mengambil sisa
warisan setelah ashabul furµd mengambil bagiannya. Ahli waris ashabah bisa
mendapatkan seluruh harta warisan jika ia sendirian, atau mendapatkan sisa
warisan jika ada ahli waris lainnya, atau tidak mendapatkan apa-apa jika
harta warisan tidak tersisa,
berdasarkan sabda Rasulullah saw.: “Berikanlah warisan itu kepada yang
berhak menerimanya, sedang sisanya berikan kepada (ahli waris) laki-laki
yang lebih berhak (menerimanya).” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Ketentuan mawaris dalam islam
Ahli Waris 'Asabah terbagi menjadi dua, yaitu :

‘Asabah bi
an-nafsi
‘Asabah ‘Asabah
binnasab bil ghair
‘Asabah
‘Asabah ‘Asabah
bissabab ma’al gair
‫هلل َوََ ََ ََت ُُهُ‬ ‫ُ‬
‫مة ِ‬ ‫ْ‬ ‫ْ‬ ‫ُ‬
‫السال َ ُم َعلَ ْيكم َو َرح َ‬
‫َّ‬ ‫َو‬
‫!‪Thanks for attention‬‬