Você está na página 1de 30

ASSALAMUALAIKUM WR.

WB
MAWARIS

NAMA KELOMPOK :
1. ADINDA KHUSWATUL KHASANAH
2. CHANDRA INDAH FITRIYANI
3. HERY SUGIYARTO
Materi yang dibahas :
A. Dalil Naqli tentang Penentuan G. Pembagian dan Perhitungan
Warisan Warisan

B. Syarat Adanya Pewarisan H. Adat dan Warisan

C. Sebab Sebab Penerimaan I. Hikmah Warisan


Warisan

D. Tiga Golongan Ahli Waris

E. Ahli Waris yang Hilang Haknya

F. Mahjub
A. Dalil Naqli Tentang Penentuan Warisan

•Q.S. an-Nisa’ :11


•Q.S. an-Nisa’ :12
B. Syarat Adanya Pewarisan

oAdanya yang meninggal dunia, baik secara


hakiki atau hukmi

oAdanya harta warisan

oTidak penghalang untuk menerima harta


warisan
C. Sebab Sebab Penerimaan Warisan

i. Adanya pertalian darah dengan yang meninggal


baik pertalian ke bawah maupun ke atas

ii. Hubungan pernikahan, yaitu suami atau istri

iii. Adanya pertalian agama

iv. Karena memerdekakan budak


D. Tiga Golongan Ahli Waris
1. Ahli waris zawul furudh

Yaitu ahli waris yang sudah ditentukan bagiannya oleh al-Quran dan
Hadist, yaitu:

a. Ahli waris yang mendapat 1/2

b. Ahli waris yang mendapat 1/4

c. Ahli waris yang mendapat 2/3

d. Ahli waris yang mendapat 1/3

e. Ahli waris yang mendapat 1/6

f. Ahli waris yang mendapat 1/8


2. Ahli Waris Ashabah

Yaitu ahli waris yang tidak ditentukan bagian warisannya


dalam al-Quran dan menghabiskan sisa harta warisan setelah
bagian zawul furudh terpenuhi hak-haknya.

Ashabah dibagi menjadi 3 macam :

a. Ashabah Binafsihi

b. Ashabah bil ghair

c. Ashabah ma’al ghair


Ashabah Binafsihi
• Yaitu ahli waris yang tidak ditentukan bagian warisannya dalam al-Quran dan
menghabiskan sisa harta warisan setelah bagian zawul furudh terpenuhi hak-
haknya.

• Ahli waris ini adalah:

1. Anak laki-laki

2. Cucu laki-laki dari anak laki-laki

3. Bapak

4. Kakek

5. Saudara laki-laki sekandung


6. Saudara laki-laki sebapak

7. Anak saudara laki-laki sekandung

8. Anak saudara laki-laki sebapak

9. Paman

10. Anak paman sebapak

11. Anak laki-laki paman yang sekandung

12. Anak laki-laki paman sebapak

Jika dua belas ahli waris diatas ada semua, maka yang menjadi ashabah
adalah yang paling dekat pertaliannya dengan yang meninggal
Ashabah bil ghair
• Ashabah bil ghair ialah ahli waris yang menjadi ashabah
disebabkan tertarik oleh ashabah binafsihi, seperti:

1. Anak perempuan jika bersama anak laki-laki (saudaranya)

2. Cucu perempuan jika ada cucu laki-laki

3. Saudara perempuan sekandung jika adanya saudara laki-laki


sekandung
Ashabah ma’al ghair
• Ashabah ma’al ghair yaitu ahli waris yang menjadi ashabah jika Bersama-
sama dengan anggota ashabah bil ghair dan tidak ada anggota ashabah bi
nafshihi, yaitu:

1. Saudara perempuan sekandung seorang atau lebih, bersama sama


dengan anak perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki
seorang atau lebih.

2. Saudara perempuan sebapak seorang atau lebih bersama-sama dengan


anak perempuan/cucu perempuan seorang/lebih.
3. Dzawil Arham

Yaitu setiap kerabat yang bukan zawul furudh dan bukan ashabah.
Menurut Sayid Sabiq dalam kitabnya Fiqih Sunnah dijelaskan bahwa
bagian zawul arham tidak diatur dalam Al-Qur’an dan Sunnah.

Menurut Ulama Sunni kelompok dzawil arham adalah semua orang


yang mempunyai hubungan kekerabatan dengan pewaris tetapi tidak
menerima warisan karena terhijab oleh ahli waris dzawil furudh dan
ashabah. Antara lain:
1. Cucu dari keturunan anak perempuan dan seterusnya ke bawah
(laki-laki maupun perempuan).
2. Anak dari cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki dan
seterusnya ke bawah (laiki-laki maupun perempuan).
3. Anak-anak dari saudara perempuan kandung, seayah, seibu, baik
laki-laki maupun perempuan.
4. Anak perempuan dari saudara laki-laki sekandung, seayah, seibu,
dan seterusnya ke bawah.
5. Anak laki-laki dari saudara laki-laki seibu, dan seterusnya ke
bawah.
F. Ahli Waris yang Hilang Haknya
o Hamba Sahaya

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata :

“Budak adalah manusia yang tidak memiliki wewenang sendiri, tetapi dia dimiliki, boleh
dijual, boleh dihibahkan dan diwaris. Dia dikuasai dan tidak memiliki kekuasaan.”

Adapun (yang menjadi) sebab dia tidak mendapatkan warisan, karena Allah membagikan
harta waris kepada orang yang berwenang memiliki sesuatu, sedangkan dia (budak) tidak
memiliki wewenang.

o Pembunuh

Bila ada orang yang berhak menerima waris, tetapi orang itu membunuh orang yang akan
mewariskan, misalnya ada anak yang tidak sabar menanti warisan ayahnya, sehingga ia
membunuh ayahnya, maka anak tersebut tidak berhak mengambil pusaka ayahnya.
o Ikhtilaffud Din Atau Berlainan Agama Dan Murtad

Ahli waris lain agama, misalnya yang meninggal dunia orang Yahudi, sedangkan
ahli warisnya Muslim, maka ahli waris yang Muslim tersebut tidak boleh mewarisi
hartanya. Dan demikian juga sebaliknya.

o Al-Laqit Atau Anak Angkat

Dalam hal ini termasuk juga orang tua angkat. Keduanya tidak medapat warisan
bila salah satunya meninggal dunia, sekalipun sama agamanya dan diakui sebagai
anaknya sendiri, atau bapaknya sendiri, sudah memiliki akte kelahiran dan di catat
sebagai anak atau bapak kandung, karena istilah orang tua dan anak ialah yang satu
darah yang disebabkan pernikahan menurut syar’i.
o Al-Muthallaqah Al-Bainah Atau Talak Tiga

Wanita yang dicerai tiga kali dinamakan thalaq ba’in. Bila suami menceraikannya dalam
keadaan sehat, lalu meninggal dunia, maka si isteri tidak mendapat warisan. Demikian
pula sebaliknya. Atau suami dalam keadaan sakit keras dan tidak ada dugaan
menceraikannya karena takut isteri mengambil warisannya, maka si isteri tidak mendapat
warisan pula. Tetapi bila suami menceraikannya karena bermaksud agar isteri tidak
mendapatkan warisan, maka isteri mendapatkan warisan.

o Al-Muthallaqah Raj’iah Atau Talak Raj’i Yang Telah Habis Masa Iddahnya

Wanita yang sudah habis masa iddahnya, tidak mendapatkan warisan dari suaminya yang
meninggal dunia. Demikian pula sebaliknya. Tetapi bila meninggal dunia sebelum habis
masa iddahnya, jika salah satunya meninggal dunia, maka mendapat harta waris.
E. MAHJUB

Mahjub artinya terhalang, maksudnya adalah ahli waris yang


terhalang menerima warisan karena terhalang oleh ahli waris
lainnya.

Ada yang terhalang sebagian (hijab nuqshan) dan ada yang


terhalang keseluruhan (hijab hirman). Artinya seseorang yang
terhalangi menerima warisan karena adanya ahli waris yang
hubungan kekerabatan yang lebih dekat dan lebih kuat
kedudukannya.
Hijab Hirman
Yaitu terhijabnya seorang ahli waris dalam memperoleh seluruh bagian lantaran ada ahli
waris lain yang lebih dekat. Jadi orang yang termahjub tidak mendapatkan bagian apapun karena
adanya hajib. Pembagianya adalah sebagai berikut :
1. Kakek, terhalang oleh :
· ayah
2. Nenek dari ibu, terhalang oleh :
· ibu
3. Nenek dari ayah, terhalang oleh :
· ayah
· ibu
4. Cucu laki-laki garis laki-laki terhalang oleh :
· anak laki-laki
5. Cucu perempuan garis laki-laki terhalang oleh :
· anak laki-laki
· anak perempuan dua orang atau lebih
6. Saudara sekandung (laki- 8. Saudara seibu (laki-laki/perempuan)

laki/perempuan) terhalang oleh : terhalang oleh :


· anak laki-laki dan anak perempuan
· anak laki-laki
· cucu laki-laki dan cucu perempuan
· cucu laki-laki
· ayah
· ayah
· kakek
7. Saudara seayah (laki-laki/perempuan) 9. Anak laki-laki saudara laki-laki
terhalang oleh : sekandung terhalang oleh :
· anak laki-laki · anak laki-laki

· cucu laki-laki · cucu laki-laki


· ayah atau kakek
· ayah
· saudara laki-laki sekandung atau
· saudara sekandung laki-laki
seayah
· saudara sekandung perempuan
· saudara perempuan sekandung atau
bersama anak/cucu perempuan seayah yang menerima ‘asabah ma’al ghair
10. Anak laki-laki saudara seayah terhalang · saudara perempuan sekandung atau seayah

oleh : yang menerima asabah ma’al ghair

· anak laki-laki atau cucu laki-laki


12. Paman seayah terhalang oleh :
· ayah atau kakek
· anak atau cucu laki-laki
· saudara laki-laki sekandung atau seayah
· ayah atau kakek
· anak laki-laki saudara laki-laki sekandung
· saudara laki-laki sekandung atau seayah
· saudara perempuan sekandung atau
· anak laki-laki saudara laki-laki sekandung
seayah yang menerima ‘asabah ma’al ghair
atau seayah
11. Paman sekandung terhalang oleh :
· saudara perempuan sekandung atau
· anak atau cucu laki-laki
seayah yang menerima asabah ma’al ghair
· ayah atau kakek
· paman sekandung
· saudara laki-laki sekandung atau seayah
13. Anak laki-laki paman sekandung terhalang
· anak laki-laki saudara laki-laki sekandung
oleh :
atau seayah
· anak atau cucu laki-laki
ayah atau kakeksaudara laki-laki sekandung 14. Anak laki-laki paman seayah terhalang

atau seayah oleh :

· anak laki-laki saudara laki-laki · anak atau cucu laki-laki

sekandung atau seayah · ayah atau kakek

· saudara perempuan sekandung atau · saudara laki-laki sekandung atau

seayah yang menerima asabah ma’al ghair seayah

· paman sekandung atau seayah · anak laki-laki saudara laki-laki

sekandung atau seayah

· saudara perempuan sekandung atau

seayah yang menerima asabah ma’al ghair

· paman sekandung atau seayah.


HIJAB NUQSHAN
Yaitu penghalang yang menyebabkan berkurangnya bagian seorang ahli waris, dengan
kata lain berkurangnya bagian yang semestinya diterima oleh seorang ahli waris karena
ada ahli waris lain.

Ahli waris yang menjadi hajib pada hijab Nuqson adalah :

a) Anak laki-laki atau cucu laki-laki

1. Ibu dari 1/3 menjadi 1/6

2. Suami dari ½ menjadi ¼

3. Istri ¼ menjadi 1/8

4. Ayah dari seluruh atau sisa harta menjadi 1/6

5. Kakek dari seluruh atau sisa harta menjadi 1/6


b) Anak perempuan

1. Ibu dari 1/3 menjadi 1/6

2. Suami dari ½ mebjadi ¼

3. Istri ¼ menjadi 1/8

4. Bila anak perempuan hanya satu orang, maka cucu perempuan dari ½ menjadi ¼

c) Cucu perempuan

1. Ibu dari 1/3 menjadi 1/6

2. Suami dari ½ mebjadi ¼

3. Istri ¼ menjadi 1/8

d) Beberapa orang saudara dalam segala bentuknya mengurangi hakm ibu dari 1/3 menjadi 1/6.

e) Saudara perempuan kandung. Dalam kasus ini hanya seorang diri dan tidak bersama anak atau saudara laki-
laki, maka ia mengurangi hak saudara perempuan seayah dari ½ menjadi 1/6.
F. Pembagian dan Perhitungan Warisan

1. Membersihkan harta warisan

Sebelum dibagikan warisan yang ditinggal harus terlebih dulu diselesaikan hal-
hal berikut :

a.Biaya penyelenggaraan jenazah, seperti kain kafan, tempat, upah menggali


kubur dan segala yang berkaitan dengan biaya penyelenggaraan jenazah

b.Utang, yaitu apabila yang meninggal mempunyai hutang, hendaknya dibayar


dari harta peninggalannya sebelum dibagikan sebagai warisan

c.Zakat, yaitu apabila sudah sampai nisab untuk mengeluarkan zakat, maka
bayarlah zakatnya, baru dibagikan sebagai harta warisan sesuai ketentuan
d. Wasiat yang berkaitan dengan harta warisan, dengan syarat :

-Wasiat itu tidak ditujukan kepada ahli waris yang sudah pasti bagiannya

-Wasiat itu tidak ditujukan melebihi sepertiga dari harta warisan

2. Menentukan jenis harta warisan;

Ada baiknya harta warisan itu dijernihkan dulu statusnya. Mana yang termasuk
harta bawaan dan mana yang termasuk harta gono-gini, jika yang
meninggalnya itu telah bersuami atau beristri. Jadi, menurut hukum Islam harta
warisan (tirkah) adalah gabungan dari harta bawaan dan sebagian harta gono-
gini.
3. Perhitungan Warisan
a) Al- Aul
Bagian masing-masing ahli waris itu melebihi jumlah harta warisan. Artinya harta
tersebut kurang.

b) Al- Rad
Kelebihan harta warisan, setelah masing-masing ahli waris mengambil bagiannya
masing-masing. Sedangkan harta tersebut harus terbagi habis.

c) Al-Gharawain
Artinya aneh karena yang meninggal tidak meninggalkan keturunan dan ahli
warisnya hanya terdiri dari ayah, ibu suami atau istri.

Catatan:
1. Harta tersebut terbagi habis
2. Bagian ibu dan bapak asalnya adalah masing 1/3 dari total harta warisan
(Rp.9.000.000) karena kasus al-gharawain maka bagiannya masing-masing
adalah 1/3 dan 2/3 dari sisa (Rp. 6.750.000) setelah diambil dari istri
G. Adat dan Warisan

Artinya: Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-
bapak dan kerabatnya. Dan bagi wanita ada hak bagian (pula) dari
harta peninggalan ibu-bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak
menurut bagian yang telah di tetapkan (Q.S. An- Nisa :7)
H. Hikmah Warisan
Hukum islam mengatur cara pembagian harta dengan adil dan benar sehingga
bermanfaat bagi yang berhak menerimanya, halal dan berfaedah.

Adapun hikmah warisan :


1. Menjauhkan sifat serakah
2. Menjalin ikatan persaudaraan berdasarkan hak dan kewajiban yang
seimbang
3. Warisan dibagi seadil adilnya
4. Mendidik taslim ( tunduk patuh ) pada ketentuan Allah swt
5. Meneggakkan keadilan dalam berkeluarga
6. Sebagai ibadah kepada Allah swt
WASSALAMUALAIKUM WR.WB