Você está na página 1de 22

ANALISIS LINGKUNGAN

BAKU MUTU EMISI

Disusun Oleh:
Fitri Mufliha Rahim (083001700014)
Khairani Kusumaningtyas (083001700019)
Komang Arya Patha Wijaya (083001700021)
Ricky Satria Dwi Putra (083001700032)
Sekar R. Parawangsa (083001700034)
Pengertian
Emisi adalah zat, energi dan/atau komponen lain yang dihasilkan dari suatu kegiatan
yang masuk atau dimasukkannya ke dalam udara ambien yang mempunyai atau tidak
mempunyai potensi sebagai unsur pencemar. (PP No.41 tahun 1999 tentang
Pengendalian Pencemaran Udara)
Sumber-sumber emisi adalah setiap kegiatan yang mengeluarkan emisi, antara lain:
a.Sumber bergerak & Sumber bergerak spesifik
b.Sumber tidak bergerak & Sumber tidak bergerak spesifik

Baku mutu emisi adalah batas kadar maksimum yang diperbolehkan masuk atau
dimasukkan ke dalam udara ambien. (PP No.41 tahun 1999 tentang pengendalian
Pencemaran Udara)
Peraturan yang mengatur Baku Mutu Emisi
1. Keputusan MENLH No.13 Tahun 1995 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak

2. Peraturan MENLH No. 05 Tahun 2006 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan
Bermotor Lama

3. PP No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara

4. Peraturan MENLH No. 07 Tahun 2007 tenntang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak
Bagi Ketel Uap

5. Peraturan MENLH No.17 Tahun 2008 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak bagi
Usaha dan/atau Kegiatan Industri Keramik

6. Peraturan MENLH No.18 Tahun 2008 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak

7. Peraturan MENLH No. 18 Tahun 2008 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak
bagi Usaha dan/atau Kegiatan Industri Carbon Block

8. Peraturan MENLH No.21 Tahun 2008 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak bagi
Usaha dan/atau kegiatan Pembangkit Tenaga Listrik Termal
9. Peraturan MENLH No.04 Tahun 2009 tentang Ambang Batas Emisi Gas Buang
Kendaraan Bermotor Tipe Baru

10. Pertauran MENLH No. 13 Tahun 2009 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak
bagi Usaha dan/atau Kegiatan Minyak dan Gas Bumi

11. Peraturan MENLH No. 12 Tahun 2012 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan
Bermotor Tipe Baru Kategori L3

12. Peraturan MENLH No.12 Tahun 2012 tengan Pediman Penghitungan Beban Emisi
Kegiatan Industri Minyak dan Gas Bumi

13. Peraturan MENLH No.23 Tahun 2012 perubahan atas Peraturan MENLH No. 10 Tahun
2012 tentang Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Kategori L3
Ciri - Ciri
Udara adalah suatu campuran gas yang terdapat pada lapisan yang mengelilingi bumi
dan komposisi campuran gas tidak selalu konstan dan selalu berubah dari waktu ke
waktu. (Fardiaz, 1992)
i. Udara Bersih
Udara bersih adalah udara yang mengandung beberapa macam gas dengan
komposisi yang normal. Ciri – ciri udara bersih:
• Tidak berwarna,
• Tidak berbau,
• Tidak berasa ,
• Tidak tercampur dengan benda asing,
• Terasa segar dan ringan saat dihirup.

(https://www.google.co.id/amp/s/ilmueografi.com/ilmu-bumi/udara/ciri-ciri-udara-yang-bersih dan-sehat/amp)
Ciri - Ciri
ii. Udara Kotor ( Tercemar)
Secara umum definisi udara tercemar adalah perbedaan komposisi udara
aktual dengan kondisi udara normal dimana komposisi udara aktual tidak
mendukung kehidupan manusia. Bahan atau zat pencemar udara sendiri dapat
berbentuk gas dan partikel. Ciri-ciri udara yang tercemar adalah:
• Udara menjadi berwarna,
• Udara menjadi berbau,
• Memiliki rasa,
• Memiliki suhu yang tinggi.

(https://www.google.co.id/amp/s/ilmugeografi.com/ilmu-sosial/ciri-ciri-air-tanah-dan-udara-yang-tercemar/amp )
BAKU MUTU EMISI UNTUK INDUSTRI BESI DAN BAJA
(PP No.41 tahun 1999 tentang pengendalian Pencemaran
Udara)

Catatan:
• Nitrogen oksida ditentukan sebagai NO2
• Volume gas dalam keadaan standar (25 C dan tekanan 1 atm).
• Untuk sumber pembakaran, partikulat dikoreksi sebesar 10% oksigen.
• Opasitas digunakan sebagai indikator praktis pemantuan dan dikembangkan untuk
memperoleh hubungan korelatif dengan pengamatan total partikel.
• Pemberlakuan BME untuk 95 % waktu normal selama tiga bulan.
BAKU MUTU EMISI
UNTUK PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP BERBAHAN
BAKAR BATU BARA
(PP No.41 tahun 1999 tentang pengendalian Pencemaran Udara)

Catatan:
• Nitrogen oksida ditentukan sebagai NO 2
• Konsentrasi partikulat dikoreksi sebesar 3 %
• Volume gas dalam keadaan standar (25% dan Tekanan 1 atm)
• Opasitas digunakan sebagai indikator praktis pemantauan dan dikembangkan untuk
memperoleh hubungan korelatif dengan pengamatan total partikel
• Pemberlakuan BME untuk 95 % waktu operasi normal selama tiga bulan
BAKU MUTU EMISI UNTUK INDUSTRI SEMEN
(PP No.41 tahun 1999 tentang pengendalian Pencemaran Udara)

Catatan:
• Nitrogen oksida ditentukan sebagai NO2
• Volume Gas dalam keadaan standar (25 C dan tekanan 1 atm)
• Konsentrasi partikel untuk sumber pembakaran (misal: kiln) harus dikoreksi sampai 7 % oksigen
• Standar diatas berlaku untuk proses kering
• Batas maksimum total partikel untuk
• (I) Proses basah =250 mg/m3
• (ii)shaft kiln =500 mg/m3
• Opasitas digunakan sebagai indikator praktis pemantauan dan dikembangkan untuk memperoleh
hubungan korelatif dengan pengamatan total partikel
• Pemberlakuan BME untuk 95% waktu operasi normal selama tiga bulan
BAKU MUTU EMISI UNTUK JENIS KEGIATAN LAIN
(PP No.41 tahun 1999 tentang pengendalian Pencemaran Udara)

Catatan:
• Volume Gas dalam keadaan standar (25C dan tekanan 1 atm)
BAKU MUTU EMISI GAS BUANG KENDARAAN BERMOTOR
TIPE BARU
(PP No.41 tahun 1999 tentang pengendalian Pencemaran Udara)
A. Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor dengan Metode Pengujian UN
Regulation 40 dan EU Directive 2002/51/EC
KENDARAAN BERMOTOR TIPE BARU KATEGORI L DENGAN PENGUJIAN TIPE I (MODE
TEST)

Catatan: 1. Pengukuran emisi idle CO dilakukan dengan metode Pengujian Tipe II UN Regulation
R40. Hasil pengukuran dicatat dalam lembar hasil uji. 2. Kategori kendaraan L3 adalah
kendaraan bermotor beroda dua dengan kapasitas silinder lebih dari 50 cm3 atau dengan
desain kecepatan maksimum lebih dari 50 km/jam apapun jenis tenaga penggeraknya.
B. Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor dengan Metoda Uji WMTC
Teknik Pengukuran Baku Mutu Emisi Berdasarkan PP No.41
Tahun 1999
Kriteria Baku Kerusakan

Sebagaimana yang dimaksud oleh PP No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian


Pencemaran Udara pasal 18, yaitu :
• Ayat (1)
Pelaksanaan operasional pengendalian pencemaran udara di daerah dilakukan
oleh Bupati/Walikota madya Kepala Daerah Tingkat II.

• Ayat (2)
Pelaksanaan koordinasi operasional pengendalian pencemaran udara di daerah
dilakukan oleh Gubernur.

• Ayat(3)
Kebijaksanaan operasional pengendalian pencemaran udara sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dapat ditnjau kembali setelah 5 (lima) tahun.
Maka, kriteria baku kerusakan diatur oleh pihak yang bersangkutan di setiap daerah,
sebagai contoh Peraturan Gubernur Bali No.16 Tahun 2016 tentang Baku Mutu Lingkungan Hidup
dan Kriteria Baku Kerusakan Lingkungan Hidup pasal 3, yaitu :
• Ayat(1)
Baku Mutu Lingkungan Hidup dan Kriteria Baku Kerusakan Lingkungan Hidup sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 ayat(1) dan ayat(3) dilarang dilampaui setiap saat.
• Ayat(2)
Dalam hal Baku Mutu Lingkungan Hidup dan Kriteria Baku Kerusakan Lingkungan Hidup
sebagaimana dimaksud pada ayat(1) terlampaui karena keadaan tertentu, penanggunug jawba
usaha dan /atau kegiatan melaporkan dan menyampaikan kegiatan penanggulangan
pencemaran atau perusakan lingkungan hidup kepada Bupati/Walikota madya dengan
tembusan kepada Gubernur .
Pengendalian Terhadap Emisi Udara
Usaha pengendalian terhadap emisi udara dikelompokkan menjadi 2 macam yaitu:
a. Pengendalian Secara Nonteknis
– Penyajian informasi lingkungan (PIL),
– Analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL),
– Perencanaan kawasan kegiatan industry dan teknologi,
– Pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan,
– Penanaman perilaku displin dan bertanggung jawab.
b. Pengendalian Secara Teknis
– Mengubah proses pembuangan gas pada sektor industri maupun rumah tangga,
– Menggantikan sumber energi mengenai bahan bakar,
– Mengelola limbah,
– Menambah alat bantu (alat – alat yang membantu penyaringan emisi ke udara)
Contoh Alat Bantu
Air Scrubber
Wet Spray Tower
Konverter Katalik

Ketika gas buangan melewati converter katalitik, logam tersebut akan


bertindak sebagai katalis yang akan mendorong reaksi kimia yang
merubah polutan misalnya karbonmonoksia menjadi karbondioksida dan
uap air yang tidak berbahaya.
Electrostatic Precipitator
Fluidized Bed Reactor

Reaktor jenis ini menggunakan fluida (cairan atau gas) yang dialirkan
melalui katalis padatan (biasanya berbentuk butiran – butrian kecil)
dengan kecepatan yang cukup sehingga katalis akan ter-olak sedemikian
rupa dan akhirnya katalis tersebut dapat dianalogikan sebagai fluida
juga.
Terima Kasih