Você está na página 1de 13

DAMPAK PERUBAHAN IKLIM

TERHADAP POLA CURAH HUJAN DAN


DEFISIT AIR DI PERKEBUNAN TEH
IDENTIFIKASI STUDI KASUS PENGARUH
PERUBAHAN IKLIM

FADEL MUHAMMAD L
NIM 03011281419116
TEKNIK SIPIL INDRALAYA
A . IDENTIFIK ASI
5W+1H
5 W + 1 H I S A G E N E R A L M E T H O D I N S T U DY C A S E
I D E N T I F I C AT I O N
A.IDENTIFIKASI 5W+1H

• A..1 Apa yang menyebabkan terjadinya perubahan pola curah hujan serta defisit air di
perkebunan teh?
• > Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi perubahan pola hujan akibat La- Nina dan El-
Nino sepanjang tahun 2005-2014 di perkebunan teh baik yang terletak di dataran rendah,
sedang maupun tinggi dalam sepuluh tahun terakhir.
• A.2. Di mana lokasi studi analisa perubahan pola curah hujan dan defisit air dilakukan?
• > Analisa dilakukan pada perkebunan teh dataran rendah di Kabupaten Subang dnegan
elevasi di bawah 600 mdpl, dataran sedang di Kabupaten Cianjur elevasi antara 800 sampai
1000 mdpl, dan dataran tinggi di Kabupaten Bandung dengan elevasi di atas 1000 mdpl.
A. IDENTIFIKASI 5W+1H (LANJUTAN ...)
• A.3. Kapan rentang analisa tahun perubahan pola curah hujan dan defisit air pada perkebunan
teh terjadi?
• > Diambil data curah hujan harian dalam rentang tahun 2005 sampai 2014 dari masing-
masing wilayah kebun, yaiut data hujan daerah perkebunan teh Kabupaten Subang, Cianjur, dan
Bandung.
• A.4. Kenapa dapat terjadi perubahan pola curah hujan dan defisit air pada perkebunan teh
tersebut?
• > Hal tersebut tentu terjadi karena adanya perubahan siklus hidrologi daerah setempat
dalam jangka waktu yang lama. Perubahan siklus hidrologi itu sendiri terjadi karena dampak dari
pengaruh iklim itu sendiri.
A. IDENTIFIKASI 5W+1H (LANJUTAN ...)
• A.5. Bagaimana pola perubahan curah hujan serta defisit air yang terjadi pada perkebunan teh selama
rentang waktu analisa?
• > Ada penurunan curah hujan serta bertambahnya bulan kering yang memiliki curah hujan <
100 mm. Walaupun tahun 2009 terjadi peningkatan curah hujan yang nyata dibandingkan tahun
lainnya, tetapi setelah tahun 2009 hingga 2014, terdapat kecenderungan penurunan curah hujan.
Untuk defisit air, pada perkebunan dataran rendah terjadi selama 5 bulan dengan indeks R jauh di
bawah 1, dataran sedang juga selama 5 bulan selama setahun namun nilai R mendekati 1, dan dataran
tinggi hany bulan tertentu dan tahun tertentu saja.
• A.6. Siapa pihak yang langsung terkena dampak dari perubahan pola curah hujan dan defisit air di
perkebunan teh tersebut?
• > Tentu saja para individu yang bekerja pada kebun teh tersebut, baik dari pemilik maupun
petani.Hal tersebut tentu mengganggu siklus pemanenan teh serta membuat pemilik untuk memutar
otak agar perkebunan teh tetap bisa dialiri air sesuai dengan kebutuhannya walaupun terjadi
perubahan pola curah hujan dan juga defisit air.
B. IDENTIFIKASI
PENILAIAN
PERUBAHAN IKLIM
VULNERABILITY (EXPOSURES, SENSITIVITIES, AND
A D A P TAT I O N C A P A C I T Y ) , H A Z A R D , A N D R I S K A R E
T H R E E A S S E S S M E N T S O F C L I M AT E C H A N G E I N
S T U DY C A S E I D E N T I F I C AT I O N
B. IDENTIFIKASI PENILAIAN
PERUBAHAN IKLIM
Ancaman
Komponen Kerentanan (Vulnerability) Risiko (Risk)
(Hazard)
Keterpaparan Sensitivitas Kemampuan Adaptasi • Pergantian cuaca • Kegagalan Panen
(Exposure) (Sensitivity) (Adaptation Capacity) secara ekstrim • Kualitas panen
• Kualitas • Bibit tanam • Penyediaan • Curah hujan jelek
lahan tanam tidak unggul infrstruktur perairan ekstrim • Daya jual kurang
jelek mendekati jelek seperti irigasi dan • Bulan kering dan • Menurunnya
• Pola tanam • Kuantitas sistem RWH bulan basah kesejahteraan
tidak bagus kebutuhan air • Perbaikan kualitas tidak menentu ekonomi
tidak terukur pupuk
• Perlindungan tanaman
B. IDENTIFIKASI PENILAIAN
PERUBAHAN IKLIM (LANJUTAN)
A. Kerentanan (Vulnerability)
A.1. Keterpaparan (Exposure)
Merupakan derajat atau tingkatan suatu sistem untuk terkena kontak dengan ancaman. Pada jurnal
dapat dilihat bahwa faktor bukan dari tanaman the itu sendiri yaitu:
a. Kualitas lahan tanam. Artinya lahan tidak dapat menyerap air yang masuk secara efisien untuk
diserap lagi oleh tanaman. Hal ini bisa saja disebabkan oleh lahan yang dipakai bukan lahan khusus
perkebunan.
b. Pola tanam yang tidak bagus. Pola dari penanaman the tidak memperhitungkan kebutuhan air
sehingga perkebunan teh tersebut dapat saja mengalami defisit air.
B. IDENTIFIKASI PENILAIAN
PERUBAHAN IKLIM (LANJUTAN)
A.2 Sensitivitas (Sensitivity)
Merupakan faktor internal dari sistem dalam menghadapi ancaman yang ada. Dalam studi
kasus ini yang merupakan komponen sensitivitas adalah:
a. Bibit tanam tidak unggul mendekati jelek. Ketika ancaman sudah dapat diatasi, namun apabila
masih terjadi defisit air, bisa saja hal tersebut datang dari kualitas bibit dari the tersebut.
b. Kuantitas kebutuhan air tidak terukur. Kebutuhan air untuk jenis teh yang ditanam tidak
diperhitungkan terlebih dahulu. Karena apabila hanya mengnadalkan hujan harian, bisa saja
tidak dapat memnuhi kebutuhan harian dari teh.
B. IDENTIFIKASI PENILAIAN
PERUBAHAN IKLIM (LANJUTAN)
A.3 Kapasitas Adaptasi (Adaptation Capacity)
Merupakan kemampuan penyesuaian yang harus dilakukan agar sistem dapat selamat dari ancaman
yang ada. Adapun adaptasi yang dapat dilakukan yaitu:
a. Penyediaan infrstruktur perairan seperti irigasi dan sistem RWH. Irigasi buatan dapat dibuat
dengan memanfaatkan sungai terdekat ataupun membuatnya secara artifisial dengan cadangan
air yang ada. Bisa juga dengan menggunakan sistem RWH, yaitu rainwater harvesting, di mana
air yang dikumpulkan pada saat hujan dapat dipakai pada saat tidak hujan.
b. Perbaikan kualitas lahan tanam. Dapat dengan pemupukan kembali ataupun pergantian seutuhnya.
c. Perlindungan tanaman. Lahan perkebunan teh dimodifikasi sedemikian rupa agar dapat terlindungi
dari ancaman yang ada.
B. IDENTIFIKASI PENILAIAN
PERUBAHAN IKLIM (LANJUTAN)
B. Ancaman (Hazard)
Merupakan hal yang berpotensi untuk merusak ataupun mengganggu sistem yang ada.
a. Pergantian cuaca secara ekstrim. Suhu yang mempengaruhi penguapan sangat mempengaruhi
kebuthan dan cadangan air dari tanaman teh.
b. Curah hujan ekstrim. Hujan ekstrim dengan intensitas tinggi dapat merusak lahan perkebunan dan
tanaman the, serta apabila tidak hujan sama sekali maka akan mempengaruhi cuaca secara
keseluruhan.
B. IDENTIFIKASI PENILAIAN
PERUBAHAN IKLIM (LANJUTAN)
C. Risiko (Risk)
Merupakan potensi risiko yang akan terjadi apabila ancaman dari perubahan iklim berhasil merusak dan
mempengaruhi kerentanan dari sistem.
a. Kegagalan panen. Tentu saja kondisi terburuk dari defisit air secara terus menerus akan membuat
perkebunan menjadi gagal panen. Meskipun tidak secara keselurhan ataupun ada daun teh yang dapat
dipetik, maka kualitasnya tentu sangat sukar untuk memenuhi syarat untuk dijual.
b. Daya jual yang rendah. Dengan memiliki kualitas daun teh yang jelek tentu harga jual dan peminat di
pasar akan menurun. Hal ini akan berdampak pada kesejahteraan ekonomi dari para petani.
Terima Kasih