Você está na página 1de 87

PPI di Kamar Bedah

 Sarbani-RSUD dr. Soedono


Madiun
OBJEKTIF
1.Peserta mengerti dan memahami pencegahan
dan pengendalian infeksi di kamar bedah

2.Peserta mampu mengubah sikap dalam bekerja


sehingga melindungi pasien, petugas dan
lingkungan kerja terhadap infeksi di kamar
bedah
Pendahuluan
 SSI adalah salah satu masalah yang paling
penting untuk di perhatikan dalam
pengendalian infeksi pada pelayanan
kesehatan
 Di Pusat Jantung Nasional Harapan Kita,
angka SSI 3% pada tahun 2010.
 Di RSUD dr. Soedono, angka SSI Jan – Sep
2016: berkisar antara 1,21% - 5,57 %.
Pendahuluan ( cont’…)
The First Global To reduce
Healthcare Associated Infections
Patient Safety
Challenge

The Second Global


Safe surgery saves lives
Patient Safety
Challenge

The Third Global Tackling Antimicrobial


Resistance
Patient Safety
Pencegahan Upaya-upaya kegiatan yang
Pengendalian HAI’s harus dilakukan

Tj bersama Perilaku Nakes:


nakes Menurunkan HAI’s
Cuci tangan
Penanganan
instrumen
Keterlibatan
Meningkatkan mutu
secara aktif Antimikroba
yankes
seluruh personil rasional
RS

Indikator mutu
HAI’s rendah
Droplet
Kontak
Transmisi Mikroorganisme Ventilasi
VAP
Ke pasien Mekanik
Tangan
Alat

Kateter
vena sentral

Kontak
Droplet Urine Kateter
Tangan
Alat

Tangan Kontak
IADP Alat
Tangan
Alat
ISK
Luka operasi IDO
Kontak
Droplet
Pengenalan akan prinsip asepsis dari Lister
Pentingnya PPI di Kamar Bedah
HAIs Masalah kesehatan
(VAP, IADP, IDO, ISK) di seluruh dunia

Mortalitas
Morbiditas
Kecacatan

Biaya meningkat
Tuntutan Citra RS menurun
Pencegahan & Mutu pelayanan
Hukum Pengendalian
UU RI no 36 menurun
Infeksi (PPI)
UU RI no 44

STRUKTUR
Program PPI ORGANISASI
TUJUAN PPI DI KAMAR BEDAH
1. Untuk memastikan bahwa pasien yang
menjalani prosedur di dalam ruang
bedah menerima perawatan yang aman
dan efektif.
2. Untuk meminimalkan kontaminasi oleh
mikroorganisme
3. Untuk mencegah atau mengurangi
risiko terjadinya infeksi nosokomial
pada pasien, petugas dengan cara yang
Cost Effective berhubungan dengan
tindakan pembedahan
SUMBER INFEKSI DI KAMAR BEDAH

 ENDOGENOUS
 KULIT
PASIEN
 MEMBRANE MUKOSA

 EXOGENOUS
 TIM BEDAH
 LINGKUNGAN
 PERALATAN, INSTRUMEN
Faktor Risiko SSI
Faktor Pasien Faktor Provider
•Usia • Komunikasi
•Status nutrisi • Pengarahan pra-operatif
•Diabetes • Perilaku patuh aturan
•Hipertensi • Kerjasama tim
•Merokok • Pendidikan , dan pelatihan
•Obesitas mengenai keselamatan pasien
•Adanya infeksi pada daerah • Mencuci tangan
terselubung • Pakaian yang dikenakan
•Kolonisasi mikroorganisme • Jumlah personil di kamar
• Penurunan daya tahan tubuh operasi
The Number One Source
Satu orang = melepaskan 4000-10,000 partikel per menit(Berry &
Kohn’s, Operating Room Technique, 11th ed., p. 252)
Yang dibawa lewat pernafasan kearea steril yang menghasilkan kontaminasi
pada luka contamination.
1. Pasien
2. Surgical Team
3. Ancillary Personnel
4. Sales Reps
5. Students
6. Pengunjung
VRE – all three sites contaminated 24% of the time
Other Sources of
[Zachary, ICHE 2001;22:560-564]

Contamination. . .

. . . Staff uniforms, hands 31% of equipment surfaces


& equipment can also be a sampled were ocntaminated
key source of infectious
organisms
37% of uniforms or
protective gowns
sampled were
contaminated 63% of workers’
gloves sampled were
contaminated

69% of white coats became contaminated with VRE or MRSA when gowns
were not worn after examining colonized/infected patients (Boyce. 1998 SHEA
abstract S74:52)
VRE or MRSA was transferred to hands after touching contaminated white
coats 27% of the time (Boyce. 1998 SHEA abstract S74:52)
More On Hand Hygiene
No artificial nails, extenders or
tips -
they harbor bacteria & fungi

Natural nail length


should be ¼ inch or
shorter
Wear only 1 ring per
hand, avoiding excessive
grooves or facets
The Sterile Field
Faktor risiko( cont’…)

• Pemasangan drain
• Perpanjangan durasi operasi
• Surveilans pasca operasi
Rantai Infeksi

SUMBER MEDIA PENERIMA


PENYAKIT INFEKSI
Definisi

Surgical Site Infection (SSI) merupakan infeksi yang terjadi


pada tempat atau daerah insisi akibat suatu tindakan
pembedahan yang di dapatkan dalam 30 hari pertama setelah
operasi tanpa implan dan 1 tahun dengan implan, pada luka
terbuka dan tertutup, Infeksi dapat terjadi di jaringan
insisional superficial, insisional dalam dan insisional rongga
ISTILAH SURGICAL SITE INFECTION/SSI
(INFEKSI DAERAH OPERASI/IDO)
mulai digunakan CDC sejak 1992 sebagai
pengganti SURGICAL WOUND INFECTION
(infeksi luka operasi/ILO)
TUJUAN

Mencegah dan atau menurunkan terjadinya


Healthcare Associated Infection (HAIs) Infeksi
Daerah Operasi (IDO)
Klasifikasi SSI/IDO

SSI Diklasifikasikan menjadi :


1. Surgical Site Infection Superficial
(SSI - SKIN ) Infeksi luka operasi
superficial
2. Surgical Site Infection Deep
Incisional ( SSI – ST ) Infeksi luka
operasi dalam
3. Surgical Site Infection
organ/Space/( SSI – IAB) Infeksi
luka operasi organ/ rongga.
Kriteria Infeksi Insisional Superfisial
Infeksi pada luka insisi (kulit dan subcutan), terjadi
dalam 30 hari pasca bedah.
kriteria dibawah ini :
 Keluar cairan purulen dari luka insisi.
 Kultur positif dari cairan yang keluar atau jaringan yang
diambil secara aseptik.
 Ditemukan paling tidak satu tanda infeksi : nyeri, bengkak
lokal, kemerahan, kecuali bila hasil kultur negatif.
 Dokter yang menangani menyatakan infeksi.
Guideline for Prevention of Surgical Site Infection, CDC
Kriteria Infeksi Insisional Dalam
Infeksi pada luka insisi, terjadi dalam 30 hari pasca bedah
atau sampai 1 tahun bila ada implant.
Terdapat paling tidak satu keadaan dibawah ini :
 Keluar cairan purulen dari luka insisi, tapi bukan berasal
dari rongga / organ
 Secara spontan mengalami dehisens atau dengan
sengaja dibuka oleh ahli bedah dan paling sedikit satu dari
tanda berikut : demam (>38 ˚C), nyeri lokal,kultur ( + )
 Dokter menyatakan luka infeksi

Guideline for Prevention of Surgical Site Infection, CDC


Kriteria Infeksi Organ/Rongga
Infeksi yang terjadi dalam 30 hari pasca bedah apabila tidak
ada implant.
Infeksi terjadi dalam 1 tahun pasca bedah apabila terdapat
implant.
Paling sedikit menunjukkan satu gejala berikut :
 Drainase purulen dari drain yang dipasang melalui luka
insisi kedalam organ / rongga.
 Ditemukan organisme melalui aseptik kultur dari organ /
rongga.
 Dokter menyatakan infeksi pada organ tsb.
Guideline for Prevention of Surgical Site Infection, CDC
KATEGORI RISK SSI

1.Klasifikasi operasi / jenis operasi

2.Kondisi Pasien Berdasarkan American Society


of nesthesiologis
(ASA Score)

3.T. Time / T Point


1. Klasifikasi operasi / jenis
operasi :

A. Operasi Bersih
B. Operasi Bersih Tercemar
C. Operasi Tercemar
D. Operasi Kotor atau dengan
Infeksi
KATEGORI OPERASI

1. Operasi Bersih :
 Operasi dilakukan pada daerah/ kulit yang pada kondisi pra
bedah tidak terdapat peradangan dan tidak membuka traktus
respiratorius, traktus gastrointestinal, orofaring, traktus
urinarius atau traktus biller
 Operasi berencana dengan penutupan kulit primer, dengan
atau tanpa pemakaian drain tertutup

Kemungkinan infeksi tidak lebih dari 2 % ( infeksi saat operasi


dari petugas/lingkungan )
KATEGORI OPERASI

2. Operasi Bersih Tercemar :


 Operasi membuka traktus digestivus, traktus biller,
traktus urinarius, traktus respiratorius sampai
dengan orofaring, atau traktus reproduksi kecuali
ovarium
 Operasi tanpa pencemaran nyata (gross spillage),
contohnya operasi pada traktus billier, apendiks,
vagina, orofaring.
Kemungkinan untuk infeksi 4 – 10 %
KATEGORI OPERASI

3. Operasi Tercemar :
 Operasi yang dilakukan pada kulit yang terbuka, tetapi
masih dalam waktu emas (Golden periode )

Kemungkinan untuk infeksi 20 %


KATEGORI OPERASI

4. Operasi Kotor atau dengan Infeksi:

Perforasi traktus digestivus, traktus urogenitalis


atau traktus respiratorius yang terinfeksi.
Melewati daerah purulen (Inflamasi Bakterial).
Luka terbuka lebih dari 6 jam setelah kejadian ,
terdapat jaringan luas atau kotor.
Dokter yang melakukan operasi menyatakan
sebagai luka operasi kotor/ terinfeksi.

Kemungkinan untuk infeksi 40 %.


2. Kondisi Pasien Berdasarkan American Society
of Anesthesiologists (ASA Score)

ASA 1 : Pasien sehat.


ASA 2 : Pasien dg gangguan sistemik ringan–
sedang.
ASA 3 : Pasien dg gangguan sistemik berat.
ASA 4 : Pasien dg gangguan sistemik berat yg
mengancam kehidupan.
ASA 5 : Pasien tdk diharapkan hidup walaupun
operasi atau tidak. 34
3. T .Time ( T Point )
Jenis operasi T Point ( Hours )
Coronary artery bypass graft 5
Bile duct, liver or pancreatic surgery 4
Craniotomy 4
Head and neck surgery 4
Colonic surgery 3
Joint prosthesis surgery 3
Vascular surgery 3
Abdominal or vaginal hysterectomy 2
Ventricular shunt 2 2
Herniorrhaphy 2
Appendectomy 1 1
Limb amputation 1
Sectio Caesarea 1
Stratifikasi Berdasarkan Indeks Risiko
Menurut National Nosocomial Infection Surveilance ( NNIS )

Berdasarkan : Contoh Kasus 1:


 Klasifikasi jenis operasi (kategori operasi) Pasien usia 22 tahun, hari pertama
 Bersih sakit tampak composmentis, T
 Bersih tercemar 0
110/70 mmHg, Nadi 70x/mt, suhu
 Tercemar 37 C, dilakukan appendectomi.
 Kotor} 1
Tampak peradangan saat
 Klasifikasi kondisi pasien dieksplorasi. Lama operasi <1 jam.
 ASA : 1
 ASA : 2 0 Contoh Kasus 2:
 ASA : 3 Pasien usia 60 tahun, hari ke4 sakit
 ASA : 4 tampak lemah, didapatkan EKG;
1
 ASA : 5 IMA yang terterapi oleh cardioloog,
 Durasi operasi dilakukan appendectomi. Tampak
 Sesuai dgn waktu yg ditentukan nilai} 0 perforasi saat dieksplorasi. Lama
 Lebih dari waktu yg ditentukan nilai} 1 operasi <3 jam.
36
Surveilans

Populasi berisiko SSI → semua pasien yang


dilakukan tindakan pembedahan
Numerator → jumlah kasus terjadi SSI
Denominator → jumlah pasien yang
dilakukan operasi (Stratifikasi berdasarkan
Indeks Risiko)
Kelompokkan infeksi luka operasi sesuai
dengan jenis operasi (appendiktomie, SC,
laparascopy) 37
6/3/14
Surgical Site Infection " Care Bundles"
 Hindari pencukuran rambut,
pencukuran rambut dilakukan jika
mengganggu jalannya operasi, dan jika
harus melakukan pencukuran hindari
menggunakan razor, tapi gunakan
clipper electric.
Infection Rate
Alexader (1983) Ko, La Zenby(1991)
Method

Razor 1.3 % 6.4 %


Clipper 0.4 % 1.8 %
Clinical Study

Seropian & Reynolds: “Wound infection after preoperative depilatory


vs razor preparation,” American Journal of Surgery 121 (March 1971) 251-254
Surgical Site Infection " Care Bundles"

 Pastikan antibiotika propilaksis diberikan


sesuai pedoman antibiotika lokal, sesuai
kategori operasi spesifik.
 Pastikan pemberian antibiotika propilaksis
dalam 60 menit sebelum operasi.
 Propilaksis dalam 24 jam setelah tindakan,
khusus jantung dalam 48 jam.
Berikan Antibiotik
1 jam sebelum
insisi

6/3/14
Recommendations in prevention SSI

• Preoperative Phase
• Intraoperative Phase
• Postoperative Phase
PENCEGAHAN SSI
1.Pre-operative Phase
 Berikan penjelasan pentingnya pencegahan infeksi
 Kaji adanya tanda – tanda infeksi
 Mandikan pasien dengan antiseptik yang mengandung
chlorhexidine 2 atau 4 % malam dan pagi hari sebelum operasi
menjelang operasi (Rabih O. et al, 2010 ).
 Bila perlu pencukuran, dilakukan max. 1 jam sebelum operasi
menggunakan elektik clipper
 Chlorhexidine dianjurkan dibanding povidone-iodine aktivitasnya
lebih tinggi dan memberikan keuntungan antimikroba
maksimum sesudah beberapa kali pemakaian.
Karakteristik 3 jenis cairan antiseptik
untuk kulit pasien pra operasi

• * if not washed away


• ** In repeat applications
Source: Guideline for Prevention of SSI (1999)
47

Himpunan Perawat Pencegah dan Pengendali Infeksi Indonesia (HIPPII)- Pusat


PENCEGAHAN SSI
2.Intra operasi
 Petugas kamar bedah :
 Petugas yang sakit dilarang masuk kamar bedah
 Tidak memakai kutek, berkuku panjang, memakai
perhiasan di tangan ( cincin,gelang,jam tangan )
 Bekerja dengan tehnik aseptik
 Lakukan kebersihan tangan bedah sebelum menggunakan
sarung tangan
 Gunakan baju dan sandal khusus kamar bedah
 Gunakan APD sebelum masuk kamar bedah
Petugas

Pastikan pemakaian APD tim bedah tepat


dan benar
Pakai Tutup kepala, Gaun,
Masker, Sarung tangan

Segera lepas alat pelindung diri


jika tidak diperlukan lagi

Catatan :
Tidak di komendasikan
mengalungkan masker di leher
Perlindungan Diri (Barrier)
 Gunakan sarana PERLINDUNGAN DIRI
untuk menghindari kontak kulit, darah atau
cairan tubuh dari pasien
oSarung Tangan
oMasker
oPelindung Mata
oPenutup kepala
oGaun, sepatu, dll. ( Depkes 2003 )
Pakai masker yang menutupi seluruh mulut dan
hidung bila memasuki kamar bedah pada saat
operasi akan mulai atau sudah selesai, atau
apabila ada alat bedah yang dibuka. Pakai
masker sepanjang operasi (IB)
Pakai topi yang menutupi seluruh rambut kepala
dan wajah waktu masuk kamar bedah ( IB )
Jangan memakai “shoe cover” untuk mencegah
ILO ( IB )
Masks and Eye Protection

Better!
+

Best!
Tidak direkomendasi

54
Area Steril

A n e s th e s ia

Meliputi :
S u rg e o n
 Glove & pakaian tim bedah
C irc u la to r
 Draped/ duk untuk meja
S c ru b
 Draped / duk penutup
peralatan
 Ruang diatas dan diantara
peralatan dan meja
LINGKUNGAN
MANAJEMEN LINGKUNGAN
Pastikan lingkungan kamar benar
sudah tepat dan benar
Pertahankan tekanan udara > positif dalam
kamar bedah dibandingkan dengan koridor
dan ruangan di sekitarnya (Kategori IB)
Pertahankan minimun 15 kali pergantian
udara per jam, dengan minimun 3 di
antaranya adalah udara segar (Kategori IB)
Semua udara harus disaring, baik udara segar
maupun udara hasil resirkulasi. (Kategori I A)
Semua udara masuk harus melalui langit-
langit dan keluar melalui dekat lantai.
Saat Operasi (1)

 Pintu kamar operasi harus selalu tertutup, kecuali untuk


lewat petugas dan alat (Kategori IB)
 Tidak menggunakan sterilisasi cepat untuk alasan
sebagai alternatif
Batasi jumlah personil yang masuk keruang operasi,
hanya yang perlu saja (Kategori IB)
Jangan menggunakan Fogging dan sinar ultra violet di
kamar bedah untuk mencegah infeksi ILO, gunakan
HEPA Filter (Katgori IA),
59
MANAJEMEN LINGKUNGAN

 Bila tampak kotoran atau darah atau cairan tubuh


lainnya pada permukaan benda atau peralatan, gunakan
desinfektan untuk membersihkannya sebelum operasi
dimulai. (Kategori IB)
 Tidak perlu mengadakan pembersihan khusus atau
penutupan kamar bedah setelah selesai operasi kotor.
(Kategori IB)
 Jangan menggunakan keset berserabut untuk kamar
bedah ataupun daerah sekitarnya (Kategori IB)
MANAJEMEN LINGKUNGAN

 Pel dan keringkan lantai kamar bedah dan desinfeksi


permukaan lingkungan atau peralatan dalam kamar
bedah setelah selesai operasi terakhir setiap harinya
dengan desinfektan (Kategori II)
 Tidak ada rekomendasi mengenai desinfeksi
permukaan lingkungan atau peralatan dalam kamar
bedah di antara dua operasi bila tidak tampak adanya
kotoran.
 Tidak ada rekomendasi untuk kultur lingkungan secara
rutin (dilakukan hanya untuk epidemiologi study)
Lingkungan..cont

Kebersihan lantai dengan


desinfektan

Pencampuran bahan
pembersih/desinfektan dan air bersih
dengan perbandingan sbb :

Perbandingan : desinfektan : air


untuk lantai dengan pengotoran berat
= 1 : 10 - 1 : 20setiap selesai operasi
Pastikan penanganan peralatan perawatan
pasien tepat dan benar

 Sterilkan semua instrumen bedah sesuai


petunjuk (Kategori II)
 Pelaksanaan sterilisasi kilat hanya untuk
instrumen yang harus segera digunakan. Tidak
melaksanakan sterilisasi kilat dengan alasan
kepraktisan, untuk menghemat pembelian
instrumen baru atau untuk menghemat waktu
(Kategori II)
 Tidak dibenarkan menggunakan instrumen yang
kemasannya basah
Peralatan ( Manajemen Linen)
Pastikan penanganan linen
di kamar bedah tepat dan benar
 Pemisahan linen kotor terkontaminasi darah atau
cairan tubuh dengan linen kotor tidak
terkontaminasi.(Kategori II).
 Tidak menempatkan linen di lantai.
 Semua linen infeksius dimasukan ke dalam kantong
dengan kode infeksius (kantong kuning).
 Linen yang terkontaminasi cairan tubuh dibersihkan
sebelum proses selanjutnya.
Waktu Pembersihan

Kegiatan Periode
Pembersihan lantai Setiap pergantian pasien dan
bila terlihat kotor
Pembersihan dinding Setiap minggu dan bila
terlihat kotor
Pembersihan dinding kaca Setiap hari dan bila terlihat
kotor
Pembersihan alat –alat Setiap hari setelah selesai
monitoring operasi dan bila terlihat
kotor
Sampling Mikrobiologi
 Jangan lakukan sampling lingkungan rutin di
kamar bedah.
 Lakukan sampling Mikrobiologi di permukaan
kamar bedah dan udara hanya sebagai
bagian penelitian epidemiologis
( IB )
PENDIDIKAN DAN LATIHAN

 Pastikan tim bedah sudah mendapatkan


pelatihan tentang PPI

Berikan pendidikan dan latihan tentang


pencegahan dan penggendalian infeksi
Rumah Sakit pada setiap individu yang
bekerja di kamar bedah
SURVEILANS
Pastikan adanya surveilens di kamar bedah

Lakukan surveilens aktif:


 Infeksi daerah operasi
 Penggunaan antimikroba
 Pola kuman infeksi luka operasi
 Karyawan yang tertusuk jarum
 Kepatuhan melaksanakan kewaspadaan
standar
Kebiasaan yang salah
Mengalungkan masker
Kebiasan yang salah
KEBIASAAN YANG BENAR
Berbagai Konfigurasi Kamar Bedah
Berbagai Konfigurasi Kamar Bedah

?? !!
Baik-baik
Tetes Air
ventilasi kamar tidur ? botol mondar mandir

tali rafia steril


PELAKSANAAN

 Setiap individu yang bertugas di kamar bedah


 Petugas kebersihan , perawat ,dokter individu
yang ada di kamar bedah
AUDIT PENCEGAHAN DAN PEGENDALIAN INFEKSI
DI KAMAR BEDAH
URAIAN ACUAN
1. Kualitas gedung Kamar Bedah
- dinding Dinding (jenis, letak almari)
- lantai (keramik; vinyl dll) Jenis, keadaan
- langit-langit Jenis, keadaan
- AC/filter udara – hepa Jenis-letak :
 AC window – split
 Sentral-sistem filter.
2. Pembagian zona/ area gedung Kamar
Bedah
3. System udara Kamar Bedah 15 X per jam bergantian/3X per jam udara
segar mengalir dari atas kebawah

4. Penggunaan lampu U.V. untuk sterilisasi


ruangan
5. Tekanan ruangan Kamar Bedah
6. Suhu Kamar Bedah Tidak lebih dari 24C
7. Kelembaban dari Kamar Bedah Tidak lebih dari 50%
8. Keadaan pintu Kamar Bedah Design & keadaan
9. Mempunyai SOP alur Petugas
10. Mempunyai SOP alur Penderita
11. Mempunyai SOP penjadwalan operasi

12. Mempunyai SOP alur barang steril-non steril Termasuk penyimpanan barang steril

13. Mempunyai SOP. penanganan disposal  Lokasi


 Infeksius-non infeksius
 Kantung tertutup
14. Adanya tempat dilakukan dekontaminasi  Lingkungan Kamar Bedah
disposal  Unit terilisasi/CSSD
 Pencucian
15. Tempat dilakukan sterilisasi peralatan  Kamar Bedah
bedah  Unit terilisasi/CSSD
16. SOP persiapan operator dan perawat  Cuci tangan bedah
 Kesehatan
17 SOP Persiapan Px  Pencukuran
 Antibiotika profilaksis
18 SOP Peri operatif Teknik asepsis
19 SOP perawatan luka Peralatan yg digunakan
20. SOP Pengecekan udara setelah operasi kasus Frekuensi
TB
21. SOP Penggunaan masker N95 pada kasus TB
22. Keadaan Sikat untuk cuci tangan bedah  Disposable steril
sesuai prinsip aseptik  Re-use Sterilisasi
 Re-use DTT
 Re-use bersih
23. SOP untuk pembersihan Kamar Bedah  Sebutkan frekuensi & cara, bahan yg
digunakan.
 Adakah (foging)
 Rutin setiap hari
 Besar :
* 1minggu / kali
* 2 minggu / kali
* 1 bulan 1 kali
* tidak pernah
KESIMPULAN

 Infeksi Daerah Operasi (IDO) dapat


dicegah/diminimalkan dan dikendalikan dengan
memperhatikan dan melaksanakan pencegahan dan
pengendalian melalui proses pre, intra dan paska
operasi.
 Peranan perawat dan dokter sangat penting dengan
menerapkan uapaya pencegahan dan pengendalian
 Surveilans IDO sangat diperlukan untuk mengetahui
data IDO , sehingga dapat diperbaiki ke depannya
References
• Surgical Site Infection; Prevention and Treatment. National
Institute for Health and Clinical Excellence. October 2008
• Surgical Site Infection Event. Centers for Disease Control and
Prevention. January 2012
• CDC Procedure Associated Module SSI, January 2014
• CDC /NHSN Surveillance definition, January 2014
Terima Kasih