Você está na página 1de 36

FRAKTUR

Identitas
Nama Jenis Kelamin Umur Alamat Tanggal masuk

: Tn. RH : Laki-laki : 32 tahun : Cikalong : 1 mei 2012

PRIMARY SURVEY
Airway
Look : Sumbatan jalan nafas (-) Listen : Snore (-), Gurgling (-), Stridor (-) Feel : Pergerakan Udara Ekspirasi (+)

Breathing

Pernapasan : 28 kali/menit Inspeksi : Pergerakan Thorax Simetris, tidak tampak luka terbuka (-), jejas (-) Palpasi : Nyeri tekan (-) Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru Auskultasi : Suara Nafas (+/+), vesikuler, suara nafas tambahan (-/-)

Circulation Nadi : 100 kali/menit Tekanan Darah : 100/70 mmHg Disability GCS : 15 (E4M6V5) Kaki tidak dapat digerakkan

Anamnesa
Keluhan utama:

OS dating dengan keluhan nyeri pada kaki kanan.

Riwayat Penyakit Sekarang


Kurang lebih 10 menit sebelum masuk rumah sakit,

pasien mengendarai sepeda motor dengan kecepatan 80 km/jam, pasien tidak melihat ada mobil yang datang dari arah berlawanan sebelum pasien hendak membelok ke kiri. Pasien menghindar stang sepeda dan tetap menyerempet bagian belakang mobil tersebut dan bagian kaki os terkena bagian belakang mobil tersebut. 3 Pasien terlempar sejauh 5 meter dari motornya, dengan posisi bagian tubuh sebelah kanan jatuh terlebih dahulu. Pasien memakai helm. Keluhan muntah disangkal. Pasien tidak mempunyai riwayat alergi. Tidak ada obat-obatan yang diminum sebelumnya.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat penyakit dahulu: Tidak ada Riwayat dengan keluhan yang sama Riwayat Penyakit Keluarga: Tidak ada keterangan. Riwayat pengobatan: Pasien belum pernah berobat sebelumnya.

Secondary Survey
Keadaan umum : 15 (E4M6V5) Kesadaran Tanda Vital

: compos mentis : 100 x/menit : 28 x/menit : 36,50C : 100 / 70 mmHg

- Nadi - Pernapasan - Suhu - TD

STATUS GENERALIS
Kepala

- Mata

- Hidung

: pupil refleks pupil Konjungtiva anemis Sklera ikterik palpebra : deviasi septum tanda radang Sekret

isokor +/+ +/+ -/normal -/-/-/-

- Telinga

: Bentuk mukosa hiperemis sekret serumen


: Bibir tidak kering Lidah tidak tremor Sianosis

normal -/-/-/-

- Mulut

- Leher: - KGB tidak teraba pembesaran


- nyeri menelan -/-

Thoraks:

- Inspeksi dada simetris retraksi iga (-) krepitasi (-) - palpasi nyeri tekan vokal fremitus

(-) ka=ki

- perkusi sonor di seluruh lapangan paru


- auskultasi vesikuler +/+ ronkhi -/wheezing -/-

Jantung:

- inspeksi iktus kordis tidak terlihat - palpasi iktus kordis teraba di ICS V midclavikularis sinistra - perkusi -batas jantung kiri ICS V linea midclavikularis sinistra -batas jantung kanan ICS IV linea parasternal - Auskultasi BJ I-II murni reguler murmur (-) gallop (-)

Abdomen Inspeksi

: Scar distensi spider nevi : B.U (-)

(-) (+) (-)

Auskultasi Palpasi

- Hepar : Tidak teraba pembesaran - Splen : Tidak teraba pembesaran - Ballotement ginjal -/- nyeri tekan suprapubis (+)
Perkusi

: Tidak bisa dinilai

Ekstremitas :

- Atas:

Akral hangat +/+ Sianosis -/Akral hangat +/+ Sianosis -/udema +/-

- Bawah: `
Kemaluan :

- Kantung kemaluan terlihat kemerahan,dan terlihat membesar. - Pada kedua lipat paha terlihat hematom.

a/r femur dextra :

a/r cruris dextra


Look :

-Look : Udema ( + ) Hematom (+ ) -F (feel): tanda inflamasi (+),krepitasi tidak dapat dinilai, nyeri tekan lokal (+) -M (move): pergerakan ekstremitas terhambat dikarenakan nyeri

Udema ( + ) Hematom (+ ) -F (feel): tanda inflamasi (+),krepitasi tidak dapat dinilai, nyeri tekan lokal (+) -M (move): pergerakan ekstremitas terhambat dikarenakan nyeri

a/r sakro iliaca dex. dan sin. : nyeri tekan (+/+)


a/r genital : look : hiperemis (+), lipat paha kanan dan kiri (+/+), udema skrotum (+) feel : nyeri tekan (-)

Laboratorium
Pemeriksaan Hb Leukosit Hematrokit Trombosit 1 mei ( pagi ) 7,3 gr% 13.500 mm3 21% 148 ribu/mm3 1 mei ( sore) 12,2 gr% 24.200 mm3 35,6% 208 ribu/mm3

Resume :
Seorang usia 32 tahun MRS dengan keluhan

utama nyeri pada kaki kanan. Kurang lebih 10 menit sebelum masuk rumah sakit, pasien mengendarai sepeda motor, lalu pasien menyerempet mobil yang datang dari arah berlawanan. Bagian kaki pasien terkena bagian belakang mobil tersebut. 3 Pasien terlempar sejauh 5 meter dari motornya, dengan posisi bagian tubuh sebelah kanan jatuh terlebih dahulu. Pasien tidak memakai helm. Keluhan muntah disangkal. Pasien tidak mempunyai riwayat alergi. Tidak ada obat-obatan yang diminum sebelumnya.

Dari pemeriksaan fisik :


Mata Abdomen a/r genitalia a/r femur dex.

: konjungtiva anemis (+/+) : distensi (+), nyeri tekan (+), BU (-) : hiperemis (+), udema skrotum (+) :

a/r sakro iliaca dex. dan sin. : nyeri tekan (+/+)

- Look : Udema ( + ), Hematom (+ ) - F (feel) : tanda inflamasi (+), krepitasi tidak dapat dinilai, nyeri tekan lokal (+) - M (move) : pergerakan ekstremitas terhambat dikarenakan nyeri
a/r cruris dex.

- Look : Udema ( + ), Hematom (+ ) - F (feel) : tanda inflamasi (+), krepitasi tidak dapat dinilai, nyeri tekan lokal (+) - M (move) : pergerakan ekstremitas terhambat dikarenakan nyeri

DD : -susp.fraktur femur 1/3 proximal dextra tertutup -susp. Fraktur pelvis -susp.fraktur tibia 1/3 proximal

Pengobatan
Di UGD IVDF NaCl 2 liter Ketorolac 2x10 mg Socef 2x1 gr Dexamethason 3x1 As.mefenamat 3x1

USULAN PEMERIKSAAN Foto Rontgen Os femur dextra, region cruris dextra, pelvis Laboratorium : Darah Rutin Urinalisis

Pembahasan :
Menurut berdasarkan teori fraktur femur : Umur; biasanya pada dewasa muda. Akibat benturan yang keras, terutama biasanya terjadi pada kecelakaan motor. Severe syok dan fat embolism. Kaki terputar ke bagian luar, kemungkinan menjadi pendek dan terjadi deformitas. Pada pemeriksaan fisik biasanya ditemukan dan bengkak pada paha.

Menurut berdasarkan teori fraktur pelvis : Biasanya mempunyai riwayat kecelakaan, jatuh dari ketinggian atau benturan keras. Keluhan biasanya terdapat pembengkakan atau memar pada lower abdomen, dipaha, perineum, atau skrotum, atau vulva. Di perut biasanya terdapat nyeri tekan. Nyeri tekan pada a/r sakro iliaca.

Menurut berdasarkan teori fraktur cruris : Bisa terjadi pada semua usia. Terdapat kemerahan, memar, bengkak. Tetapi tidak mengganggu dari pergerakkan lutut atau kaki.
(APLEYS Sistem of Orthopaedics and

Fractures, sevent edition).

Tinjauan Pustaka Fraktur femur

Gambaran Klinis
Pada patah tulang diafisis femur biasanya

perdarahan dalam cukup luas dan besar sehingga dapat menimbulkan syok. secara klinis penderita tidak dapat bangun.bukan saja karena nyeri, tapi juga karena ketidakstabilan fraktur.

Komplikasi
a. Komplikasi segera
Komplikasi lokal dapat berupa kerusakan kulit,

pembuluh darah (hematom, spasme arteri, dan kontusio), kerusakan saraf, kerusakan otot, dan kerusakan organ dalam. Komplikasi sistemik syok hemoragik

b. Komplikasi awal
Komplikasi lokal sekuele dari komplikasi segera,

berupa nekrosis kulit, gangren, trombosis vena, komplikasi pada persendian (artritis), dan pada tulang (infeksi/osteomielitis). Komplikasi sistemik emboli lemak, emboli paru, pneumonia, tetanus, delerium tremens.

Komplikasi lanjut
Komplikasi pada persendian dapat terjadi kontraktur

dan kekakuan sendi persisten, penyakit sendi degeneratif pasca trauma. Komplikasi tulang yakni penyembuhan tulang abnormal.
Mal union adalah keadaan dimana tulang menyambung dalam

posisi tidak anatomis, bisa sembuh dengan pemendekan, sembuh dengan angulasi, atau sembuh dengan rotasi. Delayed union adalah proses penyembuhan patah tulang yang melebihi waktu yang diharapkan, hal ini berarti bahwa proses terjadi lebih lama dari batas waktu yaitu umumnya 3-5 bulan. Non union adalah keadaan dimana suatu proses penyembuhan patah tulang berhenti sama sekali dan penyembuhan patah tulang tidak akan terjadi tanpa koreksi pembedahan.
Komplikasi pada otot miositis pasca trauma, ruptur

tendo. Komplikasi saraf

Penatalaksanaan
Pertolongan Pertama ABCD Anamnesis dan pemeriksaan fisik Perdarahan dari fraktur femur, terbuka atau tertutup, bisa mencapai 1- 2 liter. Jalur intravena perlu dipasang dan darah dikirim ke laboratorium untuk pemeriksaan hemoglobin. Luka dibersihkan ATS dan bila diperlukan beri antibiotik Kemudian lakukan foto radiologis. Pemasangan bidai dilakukan untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah terjadinya kerusakan yang lebih berat pada jaringan lunak selain memudahkan proses pembuatan foto.

Penatalaksanaan Fraktur Bila keadaan penderita stabil dan luka telah diatasi, fraktur dapat diimobilisasi dengan salah satu dan empat cara berikut ini: 1) Traksi. 2) Fiksasi interna. 3) Fiksasi eksterna. 4) Cast bracing.

Traksi
Metode Pemasangan traksi: Traksi Manual Tujuan : Perbaikan dislokasi, Mengurangi fraktur, Pada keadaan emergency. Dilakukan dengan menarik bagian tubuh. Traksi Mekanik Ada dua macam, yaitu :
Traksi Kulit Dipasang pada dasar sistem skeletal untuk struktur yang lain, misalnya: otot. Traksi kulit terbatas untuk 4 minggu dan beban < 5 kg. Untuk anak-anak waktu beban tersebut mencukupi untuk dipakai sebagai fraksi definitif, bila tidak diteruskan dengan pemasangan gips. Traksi Skeletal Merupakan traksi definitif pada orang dewasa yang merupakan balanced traction. Dilakukan untuk menyempurnakan luka operasi dengan kawat metal atau penjepit melalui tulang/jaringan metal.

KEGUNAAN PEMASANGAN TRAKSI


Traksi yang dipasang pada leher, di tungkai, lengan atau panggul, kegunaannya :
Mengurangi nyeri akibat spasme otot Memperbaiki dan mencegah deformitas Immobilisasi

Mengencangkan pada perlekatannya.

Pemeriksaan radiologi selanjutnya perlu

dilakukan dua kali seminggu selama dua minggu yang pertama dan setiap minggu sesudahnya untuk memastikan apakah posisi dipertahankan. Jika hal ini tidak dilakukan, fraktur dapat terselip perlahan-lahan dan menyatu dengan posisi yang buruk.

Terima Kasih